Adzan

83
0
SHARE

Ada perbedaan kalimat pada Adzan yang dipergunakan oleh Syi’ah, terhadap Adzan Ummat Islam yang kita ketahui.  Dunia menyebutnya perbedaan adzan antara Syi’ah dan Sunni.  Hal tersebut bukanlah hal yang ditutup-tutupi.  Berikut kalimat adzan kedunya sebagai perbandingan:

Adzan
(Allōhu akbar)
4 kali
(Asyhadu allā ilāha illallōh)
2 kali
(Asyhadu anna Muhammadan rōsulullōh)
2 kali
(Hayya ‘alash Sholāh)
2 kali
(Hayya ‘alal falāh)
2 kali
(Allōhu akbar)
2 kali
(Lā ilāha illallōh)
1 kali

Dalam sholat subuh disisipkan:
(ash Shalatu Khairum Minannaum)

Adzan Syiah
(Allōhu akbar)
4 kali
(Asyhadu allā ilāha illallōh)
2 kali
(Asyhadu anna Muhammadan rōsulullōh)
2 kali
(Asyhadu anna ‘Aliyyan waliyullōh)
2 kali
(Hayya ‘alash Sholāh)
2 kali
(Hayya ‘alal falāh)
2 kali
(Hayya ‘alā khoiril ‘amal)
2 kali
(Allōhu akbar)
2 kali
(Lā ilāha illallōh)
2 kali

Dalam sholat subuh disisipkan:
(Hayya ‘ala Khair al-‘Amal)

Kalangan Syi’ah mengakui bebarapa hal tentang adzan bahwa:

1. Penambahan kalimat syahadat ke tiga syi’ah tersebut tidak ada anjuran dari imam-imam Syi’ah sebelumnya.
2.  Tidak diketahui dengan pasti kapan penambahan kalimat syahadat tersebut pada adzan terjadi di kalangan Syi’ah.
3.  Syi’ah di Indonesia tidak menganggap menjadi bagian dari bagian adzan.  Menurut Syi’ah: Dari jaman dahulu kala hingga saat ini juga, tidak ada satu pun para marja’ (dan juga ulama) yang menganggap syahadat tersebut sebagai bagian dari adzan. Malah  menurut mereka mengucapkan syahadat tersebut dengan harapan pahala dan taqarrub tidak masalah. 1
4.  Mengakui bahwa hal tersebut bukan bagian dari bid’ah.  Karena menambah sesuatu yang berasal dari agama, bukan di luar agama.  Dan juga menambah sesuatu (pada adzan) namun tidak diakui sebagai bagian dari adzan.
5.  hayya ‘alâ khair al-‘amal, mempunyai dalil.  Berdasarkan Sunan Al-Baihaqî (jil. 1, hal. 424), salah satunya:

حاتم بن إسماعيل عن جعفر بن محمد عن أبيه أن علي بن الحسين كان يقول في أذانه إذا قال حي على الفلاح قال حي على خير العمل ويقول هو الأذان الأول

Hatim bin Ismail dari Jafar bin Muhammad dari ayahnya, sesungguhnya Ali bin Husain dalam azannya setelah mengucap hayya ‘ala al-falâh dilanjutkan dengan hayya ‘alâ khair al-‘amal. Ia berkata, “Demikianlah al-adzân al-awwal.”

Dalam hal ini berikut tanggapan kami:

 Pertama , jika memang tidak ada dalil dalam Syi’ah, tidak ada perintah dalam Syi’ah untuk melakukan hal tersebut.  Kenapa hal itu dilakukan dan menjadi budaya Syi’ah.  Artinya ada yang memulainya dan bukanlah seorang Imam.  Apakah hal tersebut masih diterima sebagai perintah dalam Syi’ah?  Padahal menurut Syi’ah hanya Imam yang maksum, selain Imam tidak.  Bisa jadi perintah penambahan ini adalah keliru dalam Syi’ah karena tidak dimulai (tidak diperintahkan) oleh seorang Imam.

 Kedua , jika memang tidak diketahui dengan pasti sejarahnya; maka dari sisi dalil, perintah, dan ibadah juga tidak mempunyai dasar yang kuat.

 Ketiga , jika memang (Asyhadu anna ‘Aliyan Waliyullah – Aku bersaksi bahwasanya Ali adalah wali Allah) tidak merupakan bagian dari adzan, maka kenapa diletakkan pada kalimat adzan?  Dan tidak hanya itu, Syi’ah juga mempergunakan sebagai adzan pada waktu sholat tiba.  Jika memang mengharapkan pahala, harusnya atas sebuah perintah.  Atas sebuah kejelasan bahwa hal itu tidak keliru.  Jika sudah keliru apa mungkin dapat pahala bukan sebaliknya?  Jika alasan penambahan kalimat syahadat ketiga Syi’ah adalah taqarrub, apakah maksudnya taqarrub kepada Syaidina Ali?  Jika maksudnya adalah baik, kenapa hanya Syaidina Ali saja yang ditambahkan.  Bayangkan jika semua sahabat masuk kedalam adzan, apa jadinya adzan tersebut.

 Keempat , penambahan dan juga pengurangan dalam hal Agama bukanlah definisi ibadah yang tidak bid’ah.  Hal tersebut bisa saja tergolong bid’ah.  Apalagi hal itu dilakukan tanpa dalil yang jelas, tanpa perintah Allah swt dan Rasul-Nya.  Jika kita berdzikir, ingin menambah dan mengurangi tidaklah masalah.  Namun jika ibadah tersebut sudah ada takarannya dan sudah ada contohnya, dan dalilnya kuat.  Maka hal itu tidak dirubah, jika dilakukan perubahan maka tergolong bid’ah.  Misal: Ibadah sholat, maka kita tidak bisa memodifikasi caranya tanpa dalil yang kuat.  Lalu waktunya sholat lima waktu tidak bisa di rubah menjadi tiga waktu.

أَخْبَرَنَا عُتْبَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ أَنْبَأَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ يَقُولُ مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ ثُمَّ يَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَكَانَ إِذَا ذَكَرَ السَّاعَةَ احْمَرَّتْ وَجْنَتَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ كَأَنَّهُ نَذِيرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ مَسَّاكُمْ ثُمَّ قَالَ مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ أَوْ عَلَيَّ وَأَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ

Telah mengabarkan kepada kami ‘Utbah bin ‘Abdullah dia berkata; telah memberitakan kepada kami Ibnul Mubarak dari Sufyan dari Ja’far bin Muhammad dari bapaknya dari Jabir bin ‘Abdullah dia berkata;

“Apabila Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkhutbah, maka beliau memuji dan menyanjung Allah dengan hal-hal yang menjadi hak-Nya, kemudian bersabda: ‘Barangsiapa telah diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa telah disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang bisa memberikan petunjuk kepadanya. Sebenar-benar perkataan adalah kitabullah (Al Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sejelek jelek perkara adalah hal-hal yang baru, setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan di dalam neraka’. Kemudian beliau bersabda lagi, ‘Ketika aku diutus, jarak antara aku dan hari Kiamat seperti jarak dua jari ini’. Bila beliau menyebutkan hari Kiamat maka kedua pipinya memerah, suaranya meninggi, dan amarahnya bertambah, seolah-olah beliau memperingatkan pasukan. Beliau bersabda: ‘Hati-hati pada pagi kalian dan sorenya’. Barangsiapa meninggalkan harta, maka itu buat keluarganya dan barangsiapa meninggalkan utang atau sesuatu yang hilang maka itu tanggunganku. Aku adalah wali bagi orang-orang yang beriman ‘.”

(HR. Nasa’i, Shahih)

 Kelima , dalil tersebut tidak kuat, Syi’ah pun mengakui hal tersebut.  Sehingga tidak bisa dijadikan alasan atau dalil penambahan dalam adzan2.  Ada juga dari kalangan Syi’ah menyamakan kalimat tersebut ditambah seperti halnya dalam Islam menambah kalimat “ash Shalatu Khairum Minannaum” dalam adzan subuh.  Syi’ah mengklaim bahwa itu juga tidak ada dalilnya dan tidak dicontohkan Rasul saw.  Namun hal itu tidaklah benar.  Dasar adzan tersebut dalam Islam mempunyai dalil dan sejarah yang kuat:

أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ السَّائِبِ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبِي وَأُمُّ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي مَحْذُورَةَ عَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ قَالَ
لَمَّا خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ حُنَيْنٍ خَرَجْتُ عَاشِرَ عَشْرَةٍ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ نَطْلُبُهُمْ فَسَمِعْنَاهُمْ يُؤَذِّنُونَ بِالصَّلَاةِ فَقُمْنَا نُؤَذِّنُ نَسْتَهْزِئُ بِهِمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ سَمِعْتُ فِي هَؤُلَاءِ تَأْذِينَ إِنْسَانٍ حَسَنِ الصَّوْتِ فَأَرْسَلَ إِلَيْنَا فَأَذَّنَّا رَجُلٌ رَجُلٌ وَكُنْتُ آخِرَهُمْ فَقَالَ حِينَ أَذَّنْتُ تَعَالَ فَأَجْلَسَنِي بَيْنَ يَدَيْهِ فَمَسَحَ عَلَى نَاصِيَتِي وَبَرَّكَ عَلَيَّ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ قَالَ اذْهَبْ فَأَذِّنْ عِنْدَ الْبَيْتِ الْحَرَامِ قُلْتُ كَيْفَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَعَلَّمَنِي كَمَا تُؤَذِّنُونَ الْآنَ بِهَا اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ فِي الْأُولَى مِنْ الصُّبْحِ قَالَ وَعَلَّمَنِي الْإِقَامَةَ مَرَّتَيْنِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عُثْمَانُ هَذَا الْخَبَرَ كُلَّهُ عَنْ أَبِيهِ وَعَنْ أُمِّ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي مَحْذُورَةَ أَنَّهُمَا سَمِعَا ذَلِكَ مِنْ أَبِي مَحْذُورَةَ

Telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Al-Hasan dia berkata; telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Ibnu Juraij dari ‘Utsman bin As-Saib dia berkata; bapakku dan Ummu ‘Abdul Malik bin Abu Mahdzurah telah mengabarkan kepadaku dari Abu Mahdzurah dia berkata;

“Tatkala Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam keluar dari Hunain, aku orang yang kesepuluh dari sepuluh orang Quraisy yang pergi mencari mereka (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan para sahabat). Kami mendengar mereka mengumandangkan adzan untuk shalat, maka kami mulai ikut adzan sebagai ejekan kepada mereka. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: ‘Aku mendengar seseorang yang merdu suaranya di antara mereka mengumandangkan adzan’. Beliau Shallallahu’alaihi wasallam mengutus seseorang kepada kami, lalu kamipun mengumandangkan adzan satu persatu dan aku orang yang terakhir. Ketika mendengarku mengumandangkan adzan beliau Shallallahu’alaihi wasallam berkata, ‘Kemari’. Beliau mempersilakanku duduk di depannya dan mengusap ujung rambutku, serta mendoakan keberkahan untukku -sampai tiga kali- kemudian berkata, ‘Pergilah dan kumandangkan adzan di Masjidil Haram”. Aku berkata, ‘Bagaimana caranya wahai Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam? ‘ Lalu beliau mengajariku sebagaimana yang kalian ucapkan saat adzan sekarang:

“ALLAAHU AKBAR ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR ALLAAHU AKBAR (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar). ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH, ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH, (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah) ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH, ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH (Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH, ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH, (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah) ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH, ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH (Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). HAYYA ‘ALASH SHALAAH, HAYYA ‘ALASH SHALAAH (Mari mengerjakan shalat, mari mengerjakan shalat), HAYYA ‘ALAL FALAAH, HAYYA ‘ALAL FALAAH, (Mari mencapai kebahagiaan, mari mencapai kebahagiaan), ASH SHALAATU KHAIRUMMINANNAUM (Shalat itu lebih baik daripada tidur) -pada adzan pertama saat shalat Subuh-.” dia berkata; “Beliau mengajari iqamah dua kali: ALLAAHU AKBAR ALLAAHU AKBAR (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar) ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH, ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH, (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah). ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH, ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH (Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). HAYYA ‘ALASH SHALAAH, HAYYA ‘ALASH SHALAAH (Mari mengerjakan shalat, mari mengerjakan shalat), HAYYA ‘ALAL FALAAH, HAYYA ‘ALAL FALAAH, (Mari mencapai kebahagiaan, mari mencapai kebahagiaan). QAD QAAMATISH SHALAAH, QAD QAAMATISH SHALAAH (Shalat telah siap ditegakkan, shalat telah siap ditegakkan). ALLAAHU AKBAR ALLAAHU AKBAR (Allah Maha Besar Allah Maha Besar), LAA ILAAHA ILLALLAAH, (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah).”

(HR. Nasa’i, Shahih)

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ بِلَالٍ
أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْذِنُهُ بِصَلَاةِ الْفَجْرِ فَقِيلَ هُوَ نَائِمٌ فَقَالَ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ فَأُقِرَّتْ فِي تَأْذِينِ الْفَجْرِ فَثَبَتَ الْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Rafi’ berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Mubarak dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Sa’id bin Al Musayyab dari Bilal bahwa ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk adzan shalat subuh, lalu dikatakan kepadanya: “Beliau sedang tidur.”

Maka bilal pun berkata; “ASH SHALAATU KHAIRUN MINAN NAUM. ASH SHALAATU KHAIRUN MINAN NAUM (Shalat itu lebih baik daripada tidur. Shalat itu lebih baik daripada tidur).” Hingga lafadz itu ditetapkan untuk dikumandangkan pada adzan subuh dan perkaranya menjadi tetap seperti itu.”

(HR. Ibnu Majah, Shahih)

Agama ini telah sempurna, Allah swt sendiri yang telah menyempurnakannya.  Seharusnya kita berbahagia dengan kesempurnaan agama ini.  Mengamalkan yang sudah ditetapkan.  Karena yang telah ditetapkan dalam Agama ini adalah sempurna.  Marilah kita tidak ‘merubah’ agama ini, seakan ia tidak lagi sempurna.  Jika Allah swt telah menyatakan sempurna, maka tidak seorang manusia pun mampu mengubahnya.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ الْحُمَيْدِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مِسْعَرٍ وَغَيْرِهِ عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ قَالَ
قَالَ رَجُلٌ مِنْ الْيَهُودِ لِعُمَرَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ لَوْ أَنَّ عَلَيْنَا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ
{ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمْ الْإِسْلَامَ دِينًا }
لَاتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيَّ يَوْمٍ نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ نَزَلَتْ يَوْمَ عَرَفَةَ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ
سَمِعَ سُفْيَانُ مِنْ مِسْعَرٍ وَمِسْعَرٌ قَيْسًا وَقَيْسٌ طَارِقًا

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Zubair Al Humaidi telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Mis’ar dan lainnya dari Qais bin Muslim dari Thariq bin Syihab ia berkata, “Seorang laki-laki Yahudi berkata kepada Umar, “Wahai Amirul Mukminin, kalaulah ayat ini diturunkan kepada kami, yaitu ayat:

‘(Hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan Aku sempurnakan bagi kalian Nikmat-Ku dan Aku ridhai Islam sebagai agama kalian)’ (Qs. Al Maidah: 3),

niscaya telah kami jadikan hari itu sebagai hari raya.” Lantas Umar berkata, “Sungguh, aku tahu hari apa ayat itu diturunkan. Ayat itu diturunkan di hari Arafah pada hari jumat.” Sufyan mendengar dari Mis’ar, Mis’ar mendengar dari Qais, dan Qais mendengar dari Thariq.

(HR. Bukhari, Shahih)

Ketika kita memilih sebuah jalan.  Kita tidak hanya membutuhkan bahwa jalan tersebut baik, namun kita juga membutuhkan kepastian bahwa jalan itu memang benar pada akhirnya.  Jalan ini jauh, dan perjalanan ini panjang.  Jika kita tidak mengikuti rambu-rambu yang sudah ditetapkan dari awal, apakah kita yakin akan sampai pada tujuan yang kita harapkan pada akhirnya?  Hanya karena kita ikuti seseorang dari belakang.Sasdanu Priambodo

 

 

 

  1.  Bani Hasyemi, Sayid Muhammad Hasan, Tawdhih Masail Maraji’, Daftar e Entesharat e Eslami, Qom, 1386, jil. 1, hal. 519.
  2.  https://ejajufri.wordpress.com/2012/01/01/hakikat-sejarah-azan-syiah/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here