Home Article Ahli Surga Bisa Saja Bermusuhan Saat di Dunia

Ahli Surga Bisa Saja Bermusuhan Saat di Dunia

204
1
SHARE

Salah satu tema yang sering diangkat oleh orang-orang Syiah adalah perselisihan dan peperangan yang terjadi di antara para Sahabat pasca wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka beranggapan bahwa tak mungkin para Sahabat yang terlibat konflik ini semuanya baik dan termasuk dalam Ahli Surga. Sebabnya adalah karena penduduk Surga nantinya hidup dalam kedamaian dan tidak saling bermusuhan. Karena itu, menurut mereka, di dunia semestinya mereka juga memiliki sifat yang sama, yaitu selalu dalam keadaan damai dan tidak terjadi perselisihan, dendam, atau permusuhan di antara mereka.

Tapi betulkah anggapan semacam ini? Idealnya orang-orang yang beriman itu memang saling menyintai dan tidak bermusuhan sepanjang hidupnya di dunia. Namun jika di antara mereka terjadi permusuhan dan perselisihan, apakah lantas dipastikan bahwa hanya salah satu pihak saja yang baik dan masuk Surga, sementara pihak yang lainnya menyimpang dan akan masuk Neraka? Apakah tidak mungkin para Sahabat besar yang terlibat konflik seluruhnya dianggap sebagai orang baik dan akan masuk Surga – sebagaimana yang umum diketahui bahwa di antara sepuluh Sahabat yang dijamin masuk Surga pun telah berlaku perselisihan dan peperangan di antara mereka?

Kenyataannya ternyata tidak seperti yang dipercayai kalangan Syiah itu. Ada hadits-hadits yang secara jelas menyebutkan tentang kemungkinan berlakunya perselisihan dan permusuhan di antara sesama Ahli Surga saat mereka hidup di dunia. Dalam sebuah hadits disebutkan:

عن أبي هريرة, أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال “تفتح أبواب الجنة يوم الإثنين و يوم الخميس فيغفر لكل عبد لا يشرك با الله شيئا الا رجلا كانت بينه و بين أخيه شحناء فيقال أنظروا هذين حتى يصطلحا أنظروا هذين حتى يصطلحا أنظروا هذين حتى يصطلحا”

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dibuka pintu Surga pada hari Senin dan Kamis dan diampuni setiap hamba yang tidak mempersekutukan Allah dengan apa pun juga, kecuali orang yang ada dendam/permusuhan terhadap saudaranya. Maka dikatakan, “Perhatikan mereka berdua hingga berdamai; Perhatikan mereka berdua hingga berdamai; Perhatikan mereka berdua hingga berdamai.” (HR Muslim)

Hadits di atas di satu sisi menjelaskan tentang resiko menyimpan dendam dan permusuhan terhadap saudara sesama Muslim yang bisa menyebabkan seseorang tertahan di pintu Surga. Tetapi di sisi lain, hadits itu juga memperlihatkan dengan jelas betapa hamba yang memiliki persoalan ini diberi peluang untuk berbaikan di tempat itu sehingga jika mereka melakukannya maka mereka bisa masuk ke dalam Surga setelahnya.

Pada hadits ini jelas bahwa bukan mustahil seorang yang masih menyimpan dendam dan permusuhan terhadap saudaranya yang Muslim dalam kehidupannya di dunia untuk menghapuskan permusuhan dan perselisihannya sebagai syarat baginya untuk masuk ke dalam Surga. Sekiranya sesama Ahli Surga mutlak harus dalam keadaan damai dan tanpa permusuhan selama berada di dunia tentu orang-orang yang memiliki perselisihan dan dendam ini sama sekali tidak akan mendapat peluang untuk masuk ke dalam Surga.

Dengan kata lain, para Ahli Surga tak selamanya dalam keadaan bebas dari perselisihan dan permusuhan selama hidup di dunia. Dan bagi mereka yang menyimpan dendam dan permusuhan, Allah memberi kesempatan untuk melakukan islah (berbaikan) di akhirat. Sebagai gantinya, Allah mengganjar mereka dengan Surga.

Saat menjelaskan tentang ayat pertama Surat al-Anfal, pada bagian ayat yang berbunyi “wa ashlihu dzata bainikum” (dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu), Ibn Katsir di dalam Tafsirnya menyebutkan sebuah riwayat:

Suatu saat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sedang duduk dan kami melihatnya tertawa sehingga terlihat gigi geraham beliau. Umar pun berkata, “Demi ayah dan ibuku, apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah?” Maka Beliau berkata, “Dua orang dari umatku berlutut di hadapan Rabbul Izzah. Maka berkata salah seorang di antaranya, ‘Wahai Rabb, ambil untukku dari kedzaliman (yang telah diperbuat) saudaraku ini (kepadaku).’”

Berfirman Allah Ta’ala: “Berikan (pahala kebaikanmu) kepada saudaramu karena kedzalimanmu kepadanya.” Ia berkata, “Wahai Rabb, tidak tersisa sesuatu dari kebaikanku.” Si penuntut berkata, “Wahai Rabbku, biar ia menanggung dosa-dosaku.”

Kemudian berlinang air mata Rasulullah karena menangis, dan berkata, “Sesungguhnya hari itu hari yang sangat berat, hari ketika manusia membutuhkan orang lain untuk membawa dosa-dosa mereka.” Berfirman Allah pada yang menuntut tadi, “Angkat pandanganmu dan lihatlah ke Surga.”

Maka ia mengangkat kepalanya. Ia berkata, “Wahai Rabb, aku melihat perhiasan dari perak dan istana dari emas yang berhiaskan permata. Untuk Nabi siapa ini? Untuk Sahabat siapa ini? Untuk syahid siapa ini?”

“Ini untuk siapa yang mau menebus biayanya.”

Ia berkata, “Wahai Rabb, siapa yang bisa menebus biayanya?”

Berfirman Allah, “Kamu bisa menebus biayanya.”

“Apa itu [biayanya] wahai Rabb?”

Berfirman Allah, “[Yaitu] Kamu memaafkan saudaramu.”

Ia berkata, “Wahai Rabb, aku telah memaafkannya.”

Berfirman Allah Ta’ala, “Rangkul tangan saudaramu dan masuklah ke dalam surga.”

Berkata Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, “Bertaqwalah kepada Allah dan perbaiki hubungan di antara kalian (fattaqullaha wa ashlihu dzata bainikum, QS Al-Anfal 1), maka Allah Ta’ala akan meng-islah di antara orang-orang mu’min pada hari qiamat”

Riwayat di atas menjelaskan betapa di antara hamba-hamba Allah ada yang berselisih di dunia dan masih membawa tuntutan atas perselisihannya ke akhirat. Tetapi Allah membuka peluang bagi mereka untuk islah, dan sebagai ganjarannya mereka dimasukkan ke dalam Surga.

Tetapi orang-orang Syiah biasanya tidak mau menerima riwayat-riwayat hadits dari Ahlus Sunnah. Karena itu biarlah di bagian penutup tulisan ini kami berikan hujjah dari al-Qur’an. Berkenaan dengan ini al-Qur’an menyebutkan secara jelas:

إن المتقين في جنات و عيون, ادخلوها بسلام امنين, و نزعنا ما في صدورهم من غل إخوانا على سرر متقابلين

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada di dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Dikatakan kepada mereka): “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman.” Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. (QS 15: 45-47)

Sesuatu itu tidak mungkin dilenyapkan melainkan sebelumnya ia wujud. Rasa dendam (ghil) yang ada di dalam hati orang-orang bertaqwa dan para Ahli Surga pada ayat tersebut tidak mungkin dilenyapkan oleh Allah melainkan dendam itu wujud sebelumnya. Kapan dendam  itu wujud? Tentu saja saat mereka hidup di dunia. Dan ternyata Allah berkenan menghapus dendam dan perselisihan yang ada di dalam hati-hati para Ahli Surga tersebut.

Setelah perkataan al-Qur’an yang jelas ini masihkah kita percaya bahwa Ahli Surga tak mungkin berselisih dan bermusuhan saat hidup di dunia? Begitu pula dengan para Sahabat Nabi, apakah mereka tidak mungkin berselisih dalam kehidupan dunia dan jika mereka berselisih maka salah satu pihak pasti keluar dari golongan Ahli Surga? Kepercayaan semacam ini jelas bertentangan dengan ayat al-Qur’an di atas.

Para Sahabat memiliki banyak keutamaan disebabkan kebersamaan mereka dengan Nabi. Kalaupun mereka memiliki kekurangan berupa perselisihan di antara mereka, maka mereka lebih layak untuk didamaikan oleh Allah sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat dan riwayat-riwayat di atas. Adapun amal kita sedikit, kita tak pernah berjumpa Nabi, dan kita juga belum tentu selamat dari dendam dan perselisihan.

Akhirnya, nasihat kami buat saudara-saudara dari kalangan Syiah, ketimbang terus menyibukkan diri membahas perselisihan di kalangan Sahabat, tidakkah lebih baik memeriksa hati sendiri.

Sampai kapan perasaan dendam dan benci kepada sebagian Sahabat Nabi hendak dipelihara di dalam hati? Apakah mau terus dibawa sampai mati? Padahal rasa dendam dan benci itulah yang akan menjadi salah satu penahan utama seseorang dari Surga-nya Allah.Abu Abdillah

1 COMMENT

  1. […] Kalaupun, mungkin saja, ada di antara individu-individu Sahabat yang terlibatdalam perang ketika itu dan hingga berlakunya kematian atas dirimereka belum sempat terjadi islah (perdamaian) di antara dirinya dan pihak yang berseberangan dengannya, maka insya Allah mereka termasuk yang akan di-islah diakhirat oleh Allah sebagaimana yang telah disebutkan oleh al-Qur’an(15: 47) dan telah dijelaskan pada artikel sebelum ini (http://www.syiah.co/ahli-surga-bisa-saja-bermusuhan-saat-di-dunia/). […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here