SHARE

Di antara hadits lainnya yang sering dikutip oleh kalangan Syiah untuk mendukung pendapatnya tentang para imam Ahlul Bait adalah hadits tentang dua belas khalifah yang terdapat di dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah. Kami akan membahasnya pada artikel kali ini dan akan memulainya dengan menampilkan beberapa redaksi dari hadits terkait.

1. Jabir bin samurah berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 لَا يَزَالُ الْإِسْلَامُ عَزِيزًا إِلَى اثْنَيْ عَشَرَ خَلِيفَةً ثم قَالَ كَلِمَةً لَمْ أفهمها  فَقُلْتُ لِأَبِي : مَا قَالَ ؟ قَالَ : كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ

“Islam akan tetap berjaya hingga berlalunya dua belas khalifah.” Kemudian beliau [Nabi] mengucapkan perkataan yang tidak saya pahami. Saya bertanya pada ayah saya, “Apa yang beliau katakan?” Ayah saya menjawab, “Semuanya dari Quraisy.”HR Muslim

2. Dari Jabir bin Samurah ia berkata, saya mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama ayah saya dan saya mendengar beliau [Nabi] bersabda:

لَا يَزَالُ هَذَا الدِّينُ عَزِيزًا مَنِيعًا إِلَى اثْنَيْ عَشَرَ خَلِيفَةً فقال كلمة صمنيها الناس قُلْتُ لِأَبِي : مَا قَالَ ؟ قَالَ : كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ

“Agama ini akan tetap jaya dan dominan hingga berlalunya dua belas khalifah”. Kemudian beliau [Nabi] mengucapkan sesuatu yang tidak bisa saya ikuti karena ramainya suara orang-orang. Saya pun bertanya pada ayah saya, “Apa yang beliau katakan?” Ayah saya menjawab, “Semuanya dari Quraisy.” HR Muslim

3. Dari Jabir bin Samurah ia berkata, saya masuk bersama ayah saya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Saya mendengar beliau bersabda:

 إِنَّ هَذَا الْأَمْرَ لَا يَنْقَضِي حَتَّى يَمْضِيَ فِيهِمْ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً . قَالَ : ثُمَّ تَكَلَّمَ بِكَلَامٍ خَفِيَ عَلَيَّ . قَالَ : فَقُلْتُ لِأَبِي : مَا قَالَ ؟ قَالَ : كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ

“Sesungguhnya urusan ini tidak akan berakhir hingga muncul padanya dua belas khalifah.” [Jabir] berkata, Kemudian beliau [Nabi] mengucapkan perkataan yang tidak bisa saya ikuti. Maka saya bertanya pada ayah saya, “Apa yang beliau katakan?” Ayah saya berkata, “Semuanya dari Quraisy.”HR Muslim

4. Dalam satu hadits yang agak panjang, Jabir bin Samurah menyatakan, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada hari Jum’at malam, pada hari ketika al-Aslami dihukum rajam hingga mati [karena melakukan perbuatan zina]:

لَا يَزَالُ الدِّينُ قائما حتى تقوم الساعة أو يكون عليكم اثنا عشر خليفة كلهم من قريش

Agama ini akan tetap kokoh hingga hari kiamat atau sampai adanya dua belas khalifah di tengah kalian, semuanya dari Quraisy.HR Muslim

5. Berkata Jabir bin Samurah, saya mendengar Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَكُونُ اثْنَا عَشَرَ أَمِيرًا – فَقَالَ كَلِمَةً لَمْ أَسْمَعْهَا فَقَالَ أَبِى إِنَّهُ قَالَ – كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ

“Akan ada dua belas pemimpin” – kemudian beliau mengucapkan perkataan yang tidak saya dengar. Ayah saya berkata, beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda, “Semuanya dari Quraisy.”HR Bukhari

Semua hadits ini diriwayatkan oleh Jabir bin Samurah radhiallahu ‘anhu yang datang bersama ayahnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Semuanya menyatakan akan munculnya dua belas orang khalifah atau pemimpin yang selama masa kepemimpinan mereka Islam akan tetap berjaya. Semua khalifah ini dari golongan Quraisy.

Siapakah yang dimaksud oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan dua belas khalifah ini?

Kita perlu menggarisbawahi bahwa hadits-hadits ini termasuk dalam ramalan Nabi, yaitu sesuatu yang pada saat beliau ucapkan belum terjadi, tetapi pada masa-masa berikutnya akan terjadi. Hadits-hadits ramalan bisa menjadi panduan bagi kaum Muslimin dalam membaca zaman. Hanya saja kita tidak bisa memastikan sepenuhnya kaitan antara hadits-hadits ramalan dengan peristiwa sejarah yang berlaku kemudian. Kita hanya dapat membuat perkiraan tentang apa yang dimaksud oleh Nabi dengan ramalan tersebut. Karena itu, tidak ada kewajiban untuk mengaitkan secara pasti ramalan Nabi ini dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang berlaku setelahnya.

Ada beberapa perkiraan atau penafsiran para ulama Ahlus Sunnah terkait hadits dua belas khalifah ini (lihat https://islamqa.info/en/146316).

Pertama, yang dimaksud oleh hadits-hadits ini adalah para khalifah yang lurus dan adil. termasuk di dalamnya adalah khulafa’ al-rasyidin yang empat (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali radhiallahu ‘anhum), kemudian Umar bin Abdul Aziz. Bisa juga ditambah dengan Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhu. Beberapa khalifah Bani Abbas mungkin bisa dimasukkan dalam kategori ini. Sementara selebihnya akan muncul di akhir zaman, yaitu al-Mahdi dan beberapa pemimpin selepasnya.

Kedua, yang dimaksud adalah munculnya dua belas khalifah pada waktu bersamaan. Dengan kata lain, hadits ini menggambarkan terjadinya perpecahan serius di dunia Islam yang pada puncaknya muncul dua belas orang yang mengklaim dirinya secara bersamaan sebagai khalifah yang sah. Memang hal semacam ini pernah muncul dalam sejarah Islam di mana pada saat yang sama ada khalifah di Baghdad, di Kairo, di Cordova, dan mungkin juga di beberapa tempat lainnya.

Ketiga, maksud hadits ini adalah dua belas khalifah pada awal sejarah Islam yang memerintah secara berurutan. Pemerintahannya dapat dikatakan kokoh, dan umat bersatu di bawahnya, tanpa memastikan kadar keadilan pemerintahannya. Para khalifah ini adalah khulafa’ al-Rasyidin yang empat, kemudian Muawiyah dan Yazid, setelah itu Abdul Malik bin Marwan dan empat puteranya serta keponakannya, yaitu al-Walid, Sulaiman, Umar bin Abdul Aziz, Yazid II, dan Hisyam.

Pada masa Hisyam bin Abdul Malik dan setelahnya mulai terjadi perubahan penting. Kaum Muslimin kalah dalam pertempuran di berbagai front dan ekspansi Islam terhenti. Kemudian terjadi kemunduran, perpecahan, serta revolusi yang menggeser kekuasaan dari Bani Umayyah kepada Bani Abbasiyah.

Pada era Bani Abbasiyah, Islam dapat dikatakan masih kuat, tetapi tidak lagi ada persatuan seperti pada masa-masa sebelumnya. Sejak awal era Bani Abbasiyah sudah muncul Dinasti Umayyah di Andalusia yang memerintah secara independen, dan tak lama kemudian juga muncul pemerintahan-pemerintahan lainnya yang serupa dan berdiri sendiri secara terpisah dari pemerintah pusat. Ekspansi Islam juga dapat dikatakan terhenti pada sepanjang era Abbasiyah. Belakangan negara-negara Barat malah mulai mampu melakukan serangan offensive ke wilayah Muslim, seperti Reconquista di Andalusia dan Perang Salib di Syam. Pada era berikutnya memang muncul Dinasti Utsmani yang melakukan ekspansi besar ke Eropa Timur, tetapi mereka bukan dari kalangan Quraisy, sehingga tidak bisa dikaitkan dengan hadits ini.

Kami sendiri cenderung pada penafsiran yang ketiga ini. Perkiraan nama-nama yang disebutkan di atas bisa saja mengalami sedikit variasi, misalnya Hisyam tidak dimasukkan dan sebagai gantinya masuk nama Hasan bin Ali, atau bisa juga Abdullah bin Zubair. Atau mungkin nama Hasan dan Ibn Zubair masuk, sementara nama khalifah yang terakhir adalah Umar bin Abdul Aziz. Detailnya tidak terlalu penting. Yang jelas setelah era Umar bin Abdul Aziz, terutama pada masa Hisyam, telah terjadi perubahan yang cukup penting di mana keadaan setelah itu mulai mengalami kemunduran dan perpecahan.

Hal ini dikuatkan oleh perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa agama ini akan tetap aziizan atau ‘aziizan manii’an selama periode dua belas khalifah ini. ‘Aziiz secara bahasa antara lain bermakna ‘sangat kuat’ (mighty, powerful), ‘terhormat’ (respected), ‘mulia’ (venerable), ‘megah’ (august). Sementara manii’ secara bahasa antara lain bermakna ‘tak dapat dimasuki’ (inaccessible, impenetrable), ‘tak dapat ditembus’ (impregnable), ‘tak bisa ditaklukkan’ (unconquerable), ‘tidak mempan’ (impervious), ‘tak terkalahkan’ (invincible). Ini sejalan dengan perkembangan Islam kurang lebih sepanjang abad pertama sejarahnya di mana terjadi ekspansi yang sangat pesat ke Timur dan ke Barat secara powerful dan tidak ada yang mampu mengalahkan pasukan Muslim, apalagi sampai menaklukkan kembali wilayah-wilayah yang sudah jatuh ke tangan Muslim.

Yang dimaksud di sini tentu saja kecenderungan umum, bukannya tidak ada sama sekali kekalahan pasukan Muslim pada era itu atau tidak ada wilayah yang sempat direbut kembali oleh pihak musuh. Hanya saja kekalahan dan perebutan kembali ini sangat terbatas dan sementara sifatnya, dan segera disusul dengan kemenangan dan perluasan wilayah kembali. Dan selama itu pula dunia Islam berada di bawah satu kepemimpinan, tidak terpecah-pecah dalam pemerintahan-pemerintahan kecil.

Dapat dikatakan perluasan ini baru terhenti secara signifikan pada era Hisyam (memerintah tahun 724-743). Hisyam berusaha melakukan ekspansi wilayah, tetapi mengalami beberapa kekalahan serius, misalnya di Perancis (Battle of Tours, 732), di Anatolia, India, dan beberapa wilayah lainnya. Setelah era Hisyam, terjadi Fitnah (perang sipil) yang ketiga, disusul revolusi Abbasiyah. Pada masa-masa ini dapat dikatakan dunia Islam tidak lagi bersatu di bawah satu kepemimpinan dan ekspansi wilayah secara umum terhenti.

Tentang terjadinya titik balik di era pemerintahan Hisyam ini misalnya Khalid Yahya Blankinship (1994: 6) menulis di dalam bukunya The End of the Jihad State:

Pada masa Hisyam, negeri Muslim bukan hanya menghadapi keengganan yang semakin meningkat untuk berperang di kalangan sebagian tentaranya yang lebih suka menetap untuk menikmati banyak buah kemenangan. Tetapi juga, ia menghadapi, secara membahayakan, suatu tembok masyarakat yang kuat pada seluruh sisinya, yang dalam menghadapinya pasukan kekhalifahan terhempas secara sia-sia dalam perang-perang baru untuk meluaskan batas wilayahnya setelah wafatnya Umar II [Umar bin Abdul Aziz].Khalid Yahya Blankinship

Jadi inilah kurang lebih makna dari hadits dua belas khalifah dari sudut pandang Ahlus Sunnah.

Sekarang, mungkinkah hadits ini ditafsirkan seperti yang dikehendaki Syiah, bahwa dua belas khalifah yang dimaksud adalah para imam Ahlul Bait yang dianggap ma’shum oleh orang-orang Syiah Imamiyah?

Menurut kami, penafsiran ini terlalu lemah untuk dipegang. Ada beberapa alasan untuk menunjukkan kelemahannya:

Pertama, keseluruhan hadits itu menunjukkan bahwa yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah khalifah dalam artian kepala pemerintahan utama di dunia Islam, bukan dalam arti yang lain. Karena itu dalam hadits riwayat Bukhari di atas kita menemukan redaksi yang digunakan adalah amiir. Sementara para imam Ahlul Bait yang diyakini kalangan Syiah tidak ada yang menjadi khalifah dalam pengertian ini kecuali dua orang saja, yaitu Ali bin Abi Thalib dan Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhuma. Yang lainnya tidak ada yang menjadi khalifah atau kepala pemerintahan Islam. Kalangan Syiah sendiri tidak menggunakan sebutan atau gelar khalifah atau amir bagi para imam selepas Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhu.

Ini saja sebenarnya sudah cukup sebagai bantahan yang melemahkan pandangan Syiah terkait hadits ini. Tetapi masih ada lagi kelemahan lainnya seperti yang akan disebutkan berikut ini.

Kedua, semua hadits ini menyebutkan secara jelas bahwa seluruh khalifah adalah dari kalangan Quraisy. Kalau yang dimaksud adalah seperti yang diinginkan orang-orang Syiah, tentu penyebutannya akan lebih spesifik, yaitu Ahlul Bait Nabi. Penyebutan Quraisy dalam hal ini terlalu luas dibandingkan dengan apa yang dikehendaki oleh kalangan Syiah. Menjadi lebih penting lagi bagi ramalan tersebut untuk menghindari kata ‘Quraisy’ karena kalangan Quraisy inilah yang justru menurut Syiah merupakan lawan utama serta pihak yang merampas kekuasaan dari Ahlul Bait. Sehingga penggunaan terma ini di dalam hadits tersebut malah menimbulkan kontradiksi yang besar bagi keyakinan Syiah.

Sebaliknya, penyebutan ini justru sangat selaras dengan konsepsi Ahlus Sunnah dan realitas sejarah yang ada, bahwa para khalifah adalah dari kalangan Quraisy, dan bukan khusus dari kalangan Ahlul Bait. Para ulama Ahlus Sunnah yang membahas tentang sistem politik Islam di abad-abad awal menjadikan keturunan Quraisy sebagai salah satu syarat bagi penetapan khalifah. Realitas sejarah juga menunjukkan bahwa para khalifah selama berabad-abad dipegang oleh kalangan Quraisy.

Ketiga, isi hadits ini juga bertentangan dengan narasi Syiah tentang apa yang berlaku dalam sejarah kepemimpinan kaum Muslimin. Syiah menyatakan bahwa selepas Nabi yang seharusnya menjadi pemimpin adalah Ali bin Abi Thalib, tetapi beliau dikhianati oleh para sahabat Nabi lainnya dan kekuasaan dirampas dari tangannya. Konsep dan keyakinan ini jelas bertentangan dengan pernyataan Nabi bahwa pada era dua belas khalifah keadaannya adalah sangat kuat dan tak terkalahkan (‘aziizan manii’an). Bagaimana dikatakan keadaan Islam dan umat ‘aziizan manii’an, sementara ‘khalifah’-nya sendiri tidak berhasil naik ke tampuk kekuasaan?

Belum lagi kalau kita membaca kisah-kisah yang populer di kalangan Syiah – tetapi sulit diterima akal pikiran dan juga tidak dianggap shahih di kalangan Ahlus Sunnah – seperti dipaksanya Ali bin Abi Thalib dengan kekerasan untuk berbaiat pada Abu Bakar, kemudian ditendangnya pintu rumah Ali oleh Umar sehingga mengenai Fatimah yang menyebabkan ia keguguran. Ini semua sangat bertentangan dengan keterangan Nabi tentang dua belas khalifah bahwa keadaan kepemimpinan mereka adalah ‘aziizan manii’an. Penyifatan ini tidak wujud pada dua belas khalifah yang diinginkan Syiah.

Hal yang sama juga berlaku bagi para tokoh Ahlul Bait lainnya yang dianggap sebagai imam ma’shum oleh Syiah. Bukan saja kebanyakan para imam ini tidak sampai meraih kekuasaan, sebagian dari mereka bahkan meninggal dunia dalam keadaan tertindas, seperti misalnya Husain bin Ali radhiallahu ‘anhu yang gugur di Karbala. Perjuangan para tokoh Ahlul Bait adalah satu keutamaan dan kemuliaan tersendiri. Tetapi, realitas sejarah yang mereka jalani jelas tidak sesuai dengan yang dikehendaki oleh hadits di atas.

Singkatnya, hadits tersebut menyatakan bahwa di bawah kepemimpinan dua belas khalifah, Islam dalam keadaan berjaya. Namun, narasi Syiah menyatakan yang sebaliknya, bahwa Islam justru mengalami penyimpangan di bawah para ‘khalifah palsu’, sementara para ‘khalifah yang asli’ justru tidak berjaya dalam meraih dan menjalankan fungsi kepemimpinan politik dan pemerintahannya. Jadi dari mana jalannya hadits ini hendak digunakan sebagai hujjah oleh kalangan Syiah untuk mendukung klaim tentang kepemimpinan para imam yang ma’shum?Abu Abdillah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here