Home Article Hadits Khalifatain

Hadits Khalifatain

171
0
SHARE

Di kalangan Syiah sering diangkat hadits semisal tsaqalain yang terdapat di dalam riwayat Ahlus Sunnah, hanya saja istilah yang digunakan adalah khalifatain atau dua khalifah. Dua khalifah yang dimaksud di sini adalah sama seperti yang terdapat dalam hadits-hadits tsaqalain, yaitu Kitab Allah dan Ahlul Bait Nabi.

Kalangan Syiah lantas berargumen bahwa hadits dua khalifah ini merupakan bukti bahwa Rasulullah telah menunjuk khalifah sebelum wafatnya, dan khalifah yang dimaksud adalah dari kalangan Ahlul Bait. Tapi betulkah pandangan mereka bahwa hadits ini merupakan hujjah atas penunjukan khalifah dalam artian pemimpin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Kita akan membahasnya di bawah ini.

Pertama-tama, akan ditampilkan terlebih dahulu di bawah ini hadits khalifatain yang dimaksud:

عن زيد بن ثابت, قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إني تارك فيكم خليفتين: كتاب الله حبل ممدود ما بين السماء و الأرض أو ما بين السماء إلى الأرض و عترتي أهل بيتي و إنهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض

Dari Zaid bin Tsabit, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Aku tinggalkan di tengah kalian dua khalifah: Kitab Allah, tali yang terentang antara langit dan bumi atau dari langit ke bumi, dan itrah Ahlu Baitku, keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiku di Telaga (al-Hawd) (HR Ahmad). Hadits semisal juga diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir.

Riwayat ini memang terdapat di dalam kitab Ahlus Sunnah sebagaimana disebutkan di atas, tetapi ia tidak bisa dijadikan pegangan untuk menunjukkan bahwa Rasulullah telah menetapkan Ahlul Baitnya sebagai khalifah yang memimpin umat selepas wafat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Mengapa begitu? Berikut penjelasannya.

Hadits ini diriwayatkan melalui jalan Syarik dari Rukain dari Qasim bin Hassan dari Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu. Hadits ini tidak sahih karena salah satu perawinya yaitu Syarik – Syarik bin Abdullah al-Qadhi – hafalannya buruk, banyak salahnya, dan riwayatnya goncang, sehingga tidak diterima oleh para ahli hadits. Karenanya, hadits ini berikut ungkapan khalifatain (dua khalifah) di dalamnya tidak bisa dijadikan pegangan.

Tapi anggaplah hadits ini sahih, maka ia juga tetap tidak bisa dijadikan pegangan untuk kepemimpinan atau kekhalifahan Ahlu Bait Nabi. Karena dalam hal ini kita tidak bisa memahami hadits ini secara terpisah atau sendirian, melainkan perlu melihat keseluruhan hadits yang semisal. Makna hadits ini pada akhirnya kembali kepada apa yang terkandung di dalam hadits tsaqalain. Untuk itu pembaca perlu merujuk pembahasan tentang hadits tsaqalain ini dalam tulisan kami sebelumnya Hadits Tsaqalain.

Keseluruhan hadits ini tidak sesuai jika diarahkan maknanya untuk mendukung konsep imamah seperti yang dimaksudkan oleh kalangan Syiah, bahwa Nabi telah menetapkan khalifah sepeninggalnya dari kalangan Ahlul Bait yang ma’shum, dan siapa yang tidak berpegang pada kepemimpinan Ahlul Bait ini maka akan tersesat. Makna ini sama sekali tidak sesuai, karena hadits-hadits tersebut secara umum menunjukkan bahwa kedudukan dari dua hal yang ditinggalkan oleh Nabi ini tidak sama derajatnya, dalam hal ini Kitab Allah lebih besar kedudukannya daripada Ahlul Bait. Begitu pula perintah untuk berpegang teguh agar tidak tersesat secara khusus ditujukan kepada Kitab Allah dan bukan kepada Ahlul Bait Nabi. Adapun tentang pernyataan bahwa keduanya tidak akan berpisah hingga berjumpa Nabi di Telaga telah kami jelaskan pengertiannya pada artikel sebelum ini.

Hadits ini bukan soal kepemimpinan, melainkan soal amanah yang ditinggalkan oleh Nabi agar diambil berat oleh umat. Kedua beban amanah ini perlu dipikul oleh kaum Muslimin menurut kedudukannya masing-masing. Kitab Allah mesti diposisikan sebagai petunjuk (huda), cahaya (nuur), serta tali yang menghubungkan antara dunia dan akhirat. Sementara Ahlul Bait mesti diperhatikan hak-haknya, dicintai, serta dimuliakan. Begitulah pengertian yang tepat dari hadits tsaqalain, begitu pula dengan hadits khalifatain yang sedang dibahas ini.

Pada hadits khalifatain di atas juga tampak penekanan yang berbeda di antara dua hal yang ditinggalkan oleh Nabi. Pada yang pertama, Kitab Allah, disebutkan kedudukannya sebagai tali yang terentang antara langit dan bumi, dan hal yang sama tidak disebutkan atas Ahlul Bait. Jika yang dimaksud oleh Nabi di sini adalah imamah Ahlul Bait yang ma’shum seperti yang dimaksudkan oleh kalangan Syiah, tentu kedudukannya akan disejajarkan dengan al-Qur’an, apakah dalam hal keterhubungannya antara langit dan bumi, dalam kedudukannya sebagai pemberi petunjuk dan pembawa suluh cahaya, ataupun dalam perintah untuk berpegang teguh padanya supaya jangan tersesat. Tetapi yang demikian tidak kita jumpai pada keseluruhan makna hadits-hadits ini.

Selain itu, jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memaksudkan perkataannya ini untuk menetapkan kepemimpinan (kekhalifahan) Ahlul Bait selepasnya, tentu akan lebih tepat jika beliau hanya menekankan pada kekhalifahan Ahlul Bait saja, tanpa menyampurnya dengan al-Qur’an, sehingga tidak akan menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda di antara mereka yang mendengarnya. Akan lebih jelas jika hadits tersebut menyatakan bahwa Nabi telah meninggalkan khalifah (bukan khalifatain) di tengah umat, yaitu (para imam yang ma’shum dari kalangan) Ahlul Bait, dan mereka tidak akan pernah berpisah dengan Kitab Allah hingga berjumpa Nabi di Telaganya.

Penyebutan dua khalifah (khalifatain) di dalam hadits tersebut tidak memberi satu hujjah yang jelas dan kuat untuk mendukung maksud kalangan Syiah. Padahal keyakinan imamah yang dikehendaki Syiah merupakan perkara ushul (pokok) yang memerlukan dalil yang kuat dan jelas.

Lantas, jika kita menganggap hadits ini shahih, apa yang dimaksud dengan khalifatain di sini?
Makna kata khalifatain di sini pada akhirnya kembali kepada makna tsaqalain atau “dua hal yang berat yang ditinggalkan Nabi di tengah umat”. Ini lebih sejalan dengan makna asalnya secara bahasa. Kata khalifah berasal dari kata khalafa yang selain bermakna ‘menggantikan’ (succeed, substitute) atau ‘menunjuk pengganti’ (to appoint as successor) juga bisa bermakna ‘meninggalkan’ (to leave behind) (Lihat Kamus Hans Wehr). Jadi makna kata khalifatain (dua khalifah) pada hadits ini lebih tepat jika dimaknai “dua hal yang ditinggalkan oleh Nabi di tengah umat” atau “dua hal yang perlu diambil berat selepas Nabi tiada”.
Penjelasan di atas sejalan dengan teks hadits lainnya yang shahih seperti berikut ini:

Dari Zaid bin Arqam radhiallahu ‘anhu, ia menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا بعدي أحدهما أعظم من الاخر كتاب الله حبل ممدود من السماء إلى الأرض و عترتي أهل بيتي و لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض فانظروا كيف تخلفوني فيهما

Saya telah meninggalkan di tengah kalian sesuatu yang jika kalian pegang erat maka kalian tidak akan tersesat selepasku. Salah satunya lebih besar daripada yang lainnya, yaitu kitab Allah yang merupakan tali yang terentang dari langit ke bumi, dan keluargaku, Ahlu Baitku, dan keduanya tidak akan berpisah hingga berjumpa denganku di Telaga. Maka perhatikanlah bagaimana kalian berinteraksi dengan keduanya sepeninggalku. (HR Tirmidzi)

Pada akhir hadits tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan: fandzuruu kaifa takhlufuunii fiihima “maka perhatikanlah bagaimana kalian berinteraksi dengan keduanya sepeninggalku”. Kata yang digunakan pada kalimat tersebut juga berakar pada kata khalafa, dan kalimat takhlufuuni kurang lebih bermakna “kalian sepeninggalku (nanti)”. Jadi di dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan umat tentang dua hal penting – Kitab Allah dan Ahlu Baitnya – yang akan ditinggalkannya (khalafa) di tengah umat kemudian.

Maka khalifatain pada akhirnya adalah berkenaan dengan sesuatu yang ditinggalkan oleh Nabi dan perlu diambil berat oleh kaum Muslimin sepeninggal beliau. Ia bukan tentang khalifah dalam artian pemimpin atau imam yang ma’shum seperti yang diinginkan oleh kalangan Syiah Imamiyah. Abu Abdillah

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here