Hadits tentang Lalat

Antara Iman dan Akal

76
0
SHARE

Berulang kali kami mendengar orang-orang Syiah – dan juga kalangan yang memuja rasionalisme – mengkritik dan mencela hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, antara lain hadits yang menganjurkan untuk membenamkan lalat yang hinggap di minuman. Mereka menganggap hadits ini sebagai sesuatu yang tidak masuk akal dan bertentangan dengan prinsip kebersihan dan kesehatan. Tambah lagi, di antara yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang tidak disukai oleh kalangan Syiah.

Berikut ini adalah contoh teks hadits yang dimaksud. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ, ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ, فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَ الْأُخْرَى شِفَاءً

Jika seekor lalat hinggap pada minuman salah seorang di antara kalian, maka hendaklah ia membenamkannya (ke dalam minuman itu), kemudian membuangnya, karena pada salah satu sayapnya ada penyakit dan pada (sayap) yang lainnya ada obat (atas penyakit itu). (HR Bukhari)

Ada hadits lain yang juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan isi yang kurang lebih sama, tetapi sebagai ganti ‘minuman’ disebutkan ‘wadah’ (إِنَاءِ) dan dianjurkan agar lalat itu ditenggelamkan sepenuhnya (فَلْيَغْمِسْهُ كُلُّهُ).

Jika dilihat sekilas, perintah ini bukan hanya terasa tidak masuk akal, tetapi juga menjijikkan. Hinggapnya lalat di minuman atau makanan saja sudah menjijikkan, apalagi jika seluruh tubuh lalat ditenggelamkan ke dalam minuman. Siapa yang mau mengonsumsinya setelah itu? Sampai di sini, kritik yang disampaikan kalangan Syiah tampak mengena.

Setelah itu mungkin orang-orang awam akan berfikir betapa hadits-hadits Ahlus Sunnah berisi ajaran-ajaran yang ganjil dan tidak masuk akal. Dan jangan-jangan ada lebih banyak lagi hadits di dalam literatur Ahlus Sunnah yang ganjil seperti ini.

Sebetulnya apa yang tampak ganjil dan tak masuk akal pada kesan pertama belum tentu kenyataannya seperti itu. Jika kita mau berfikir lebih dalam tentang kemungkinan yang terdapat di dalam hadits ini, maka kita akan menemukan bahwa hadits ini tidak serta merta dapat dikatakan bertentangan dengan akal sehat dan ilmu pengetahuan. Berikut penjelasan lebih detailnya.

 Pertama , telah sama-sama diketahui bahwa lalat membawa kotoran dan benih penyakit pada dirinya. Lalat dapat memicu penyakit, khususnya diare, ketika ia hinggap di minuman atau makanan yang dikonsumsi oleh manusia. Tetapi lalat itu sendiri tidak pernah terkena penyakit diare. Ini menunjukkan bahwa pada tubuh lalat terdapat sesuatu yang membuat ia kebal terhadap penyakit tadi. Dengan kata lain, lalat memiliki zat antibodi di dalam dirinya yang menjadi penangkal atau obat terhadap benih penyakit yang dibawanya.

Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di atas memberi isyarat ke arah ini, entah dalam artian lahiriah ataupun kiasan: “karena pada salah satu sayapnya ada penyakit dan pada (sayap) yang lainnya ada obat (atas penyakit itu)”. Potongan hadits ini secara tidak langsung menjelaskan mengapa lalat tidak terkena dampak dari penyakit yang dibawanya.

 Kedua , menarik untuk diperhatikan bahwa kata ‘janaah’ (جناح) yang digunakan di dalam hadits di atas selain bermakna ‘sayap’ juga bisa bermakna ‘sisi’. Mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memang bermaksud bahwa penyakit dan obat benar-benar terdapat pada masing-masing sayap lalat, bukan pada bagian tubuh yang lain. Tetapi mungkin juga yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah lalat pada satu sisi terdapat penyakit dan pada sisi lainnya terdapat obat, jadi tidak mengacu secara khusus pada organ tertentu di tubuh lalat. Yang jelas, hadits itu hendak menunjukkan bahwa obat atas penyakit yang ditimbulkan oleh lalat sebenarnya ada di dalam lalat itu sendiri.

 Ketiga , pada hadits tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan tentang suatu metode sederhana yang bisa mengeluarkan obat atau penangkal yang terdapat di dalam tubuh lalat, yaitu dengan cara membenamkan atau menenggelamkan lalat itu sepenuhnya ke dalam minuman.

Dalam sebuah hadits riwayat Ibn Majah dari Abu Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan hal yang kurang lebih sama, yaitu tentang satu sayap lalat yang mengandung penyakit dan sayap lainnya mengandung obat, serta perintah untuk menenggelamkannya jika ia hinggap di makanan – tentunya makanan yang dimaksud di sini adalah makanan yang berkuah. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan: “karena ia [lalat itu] mendahulukan racun dan mengakhirkan obat” (فَإِنَّهُ يُقَدِّمُ السُّمَّ وَ يُؤَخِّرُ الشِّفَاءَ).

Yang dimaksud oleh Nabi di sini adalah bahwa saat hinggap di makanan atau minuman, lalat itu hanya melepas benih penyakit yang dibawanya. Ini yang ‘didahulukan’ oleh lalat. Adapun obat penangkal atas penyakit tersebut, maka itu adalah hal terakhir yang mungkin dilepas oleh lalat tersebut secara normal. Tetapi dengan membenamkan lalat itu ke dalam air, maka ia akan melepaskan zat antibodi tersebut yang akan menetralisir benih penyakit yang dibawanya tadi.

Ini tidak ada kaitan dengan jijik atau tidak jijik. Ini lebih berkaitan dengan satu cara untuk menangkal penyakit yang dibawa oleh lalat. Lagi pula tidak ada perintah untuk memakan atau menelan lalat itu bersama makanan atau minuman yang hendak dikonsumsi. Nabi perintahkan umatnya untuk membuang lalat itu setelah menenggelamkannya, karena apa yang menjadi tujuan sudah cukup dengan ditenggelamkannya lalat tersebut.

 Keempat , mungkin masih ada yang merasa ganjil dan kurang puas dengan penjelasan di atas. Mengapa hal itu diperintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mengapa tidak dibuang saja makanan atau minumannya serta diganti dengan yang baru? Karena kalaupun unsur penyakitnya sudah hilang, tetapi hal itu belum menghilangkan rasa jijik terhadapnya.

Dalam hal ini kita perlu memahami keadaan penghidupan di jaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabatnya. Keadaan ekonomi ketika itu sangat sulit, setidaknya hingga sebelum Perang Khaibar pada tahun ke-7 Hijriah. Air dan makanan adalah sesuatu yang sangat berharga dan jauh dari kelimpahan yang membuat seseorang dapat dengan mudah membuang makanan atau minuman yang dimilikinya dan menggantinya dengan yang baru tanpa berpikir dua tiga kali.

Kita menemukan banyak riwayat Sirah yang menyebutkan tentang kesulitan pangan yang dialami oleh Nabi dan para Sahabat dalam berbagai kesempatan. Ada riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi biasa berpuasa jika di rumahnya tidak ada sesuatu yang bisa dikonsumsi; bahwa di rumah Nabi jarang ada makanan selain kurma dan air putih; bahwa pernah beberapa orang Sahabat berangkat menjalankan ekspedisi militer, sementara jatah makanan yang ada pada mereka hanya sebutir korma per hari untuk setiap peserta ekspedisi; dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Dalam konteks inilah kita memahami bahwa apa yang disabdakan oleh Nabi adalah sebuah strategi pangan sekaligus upaya penjagaan kesehatan bagi para sahabatnya. Nabi mengajarkan hal tersebut bukan karena sifat tidak bersih atau karena absennya rasa jijik, melainkan sebagai sebuah solusi bagi umat dalam menghadapi kemungkinan datangnya penyakit lewat makanan atau minuman yang mereka konsumsi yang kadarnya ketika itu sangat sedikit.

Kita yang hidup di hari ini dan memiliki kelebihan harta ataupun makanan mungkin tidak siap untuk mengerjakan seperti yang disabdakan oleh Nabi dan memilih untuk meninggalkan makanan dan minuman yang telah terkontaminasi oleh lalat. Tidak ada masalah jika kita lebih cenderung untuk mengganti makanan atau minuman tadi dengan yang baru dan lebih bersih.

Namun,

Jangan sampai kita membusukkan hati dengan prasangka buruk dan mengotori lisan dengan celaan terhadap hadits-hadits sahih yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Agar jangan sampai hati dan lisan kita ini menjadi lebih kotor dibandingkan lalat yang dianggap kotor dan menjijikkan itu.Abu Abdillah

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here