Home Article Hadits Tsaqalain

Hadits Tsaqalain

192
1
SHARE

Di antara hadits yang sering diangkat oleh kalangan Syiah untuk menunjukkan adanya kepemimpinan para imam yang ma’shum selepas Nabi adalah hadits Tsaqalain (hadits dua pusaka). Hadits tentang dua pusaka ini juga banyak disebutkan di dalam literatur Ahlus Sunnah. Namun jika dikaji betul-betul, maka hadits-hadits tersebut maknanya tidaklah seperti yang dimaksudkan oleh kalangan Syiah.

Berikut ini kami tampilkan sejumlah hadits sebagaimana yang terdapat di dalam sumber-sumber Ahlus Sunnah. Tidak semua hadits akan dicantumkan di sini, tetapi insya Allah secara umum mewakili isi teks hadits-hadits terkait. Hadits-hadits yang disebutkan di dalam artikel ini merupakan hadits-hadits yang berstatus shahih dan hasan.

Pada intinya hadits-hadits ini menjelaskan tentang dua pusaka yang ditinggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di tengah umat. Ada perintah untuk berpegang kepadanya agar tidak tersesat selepas Nabi tiada. Kedua hal ini adalah Kitab Allah (al-Qur’an) dan ‘Itrah atau Ahlu Bait (keluarga) Nabi. Hadits-hadits ini sebagiannya menyebut kedua hal ini sebagai tsaqalain (dua pusaka), kadang juga tanpa penyebutan tsaqalain. Secara bahasa tsaqalain bermakna dua hal yang berat. Artinya sesuatu yang perlu diambil berat atau diperhatikan baik-baik oleh kaum Muslimin sepeninggal Nabi. Sebagian hadits juga menyebutkan bahwa kedua hal itu (Kitab Allah dan Ahlu Bait) tidak akan berpisah hingga berjumpa Nabi di Telaganya (hawd) di akhirat kelak.

Beberapa hadits menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan hadits ini saat melakukan ibadah haji dan ada pula yang menyebutkan Nabi mengatakan ini saat pulang haji dan berada di sebuah tempat bernama Khum di antara Makkah dan Madinah. Boleh jadi Nabi memang mengucapkan hadits ini lebih dari satu kali. Yang jelas beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan hadits ini pada bulan-bulan terakhir hidupnya.
Kini kita akan melihat hadits-hadits tersebut satu demi satu dan membahasnya.

1) Dari Zaid bin Arqam radhiallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الا و إني تارك فيكم ثقلين أحدهما كتاب الله عز و جل هو حبل الله من اتبعه كان على الهدى و من تركه كان على ضلالة, و فيه فقلنا من أهل بيته …
Ingatlah! Saya telah meninggalkan di tengah kalian dua pusaka, salah satunya adalah Kitab Allah Azza wa Jalla, ia adalah tali Allah. Siapa yang mengikutinya maka ia berada di atas petunjuk. Siapa yang meninggalkannya maka ia akan tersesat. Kami pun bertanya siapakah Ahlu Bait Nabi? … (HR. Muslim)

Hadits ini menyebutkan tentang adanya dua pusaka, salah satunya adalah Kitab Allah. Sementara yang satunya lagi, yaitu tentang Ahlu Bait, diketahui lewat pertanyaan beberapa orang yang hadir kepada Zaid bin Arqam. Sebelum membahas lebih jauh, kita akan melihat hadits-hadits lainnya terlebih dahulu, sehingga pemahaman kita tentang apa yang dimaksud oleh Nabi ini menjadi lebih jelas.

2) Dalam sebuah hadits lain disebutkan, dari Jabir bin Abdullah berkata, aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hajinya pada hari Arafah dan beliau berada di atas untanya yang bernama al-Qashwa’ tengah berkhutbah. Saya mendengar beliau bersabda:
يا أيها الناس إني قد تركت فيكم ما إن أخذتم به لن تضلوا كتاب الله و عترتي أهل بيتي
Wahai manusia! Saya telah meninggalkan di tengah kalian apa-apa yang jika kalian pegang maka kalian tak akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan keluargaku, Ahlu Baitku. (HR. Tirmidzi)

Hadits ini diriwayatkan oleh Ja’far [al-Shadiq] bin Muhammad [al-Baqir], dari ayahnya yang mendengar secara langsung dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu. Dalam hadits ini tidak disebutkan kata tsaqalain (dua pusaka), tetapi konteks dan isi haditsnya secara umum sama dengan hadits-hadits lainnya yang dijelaskan di sini, yaitu dua hal yang ditinggalkan Nabi di tengah umat Islam: Kitab Allah dan ‘Itrah atau Ahlu Bait Nabi (keluarga Nabi).

3) Kemudian ada satu hadits shahih yang sangat panjang yang juga diriwayatkan oleh Ja’far bin Muhammad dari ayahnya yang ketika itu masih belia, bahwa ia [Muhammad al-Baqir] dan beberapa orang lainnya berkunjung ke tempat Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu. Jabir menanyai orang-orang yang datang berkunjung satu persatu hingga tiba giliran pemuda belia ini. Ia kemudian memperkenalkan dirinya, “Saya adalah Muhammad bin Ali bin Husain.”

Jabir radhiallahu ‘anhu lalu memegang kepala Muhammad al-Baqir dan membuka bagian atas bajunya dan memegang dadanya dengan telapak tangannya. Setelah itu Muhammad al-Baqir bertanya dan Jabir menjelaskan secara panjang lebar tentang haji yang dijalani oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di tahun ke sepuluh hijriah. Di dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa Rasulullah memberi rangkaian nasihat dan peringatan kepada orang-orang saat berada di Arafah yang di antaranya berbunyi:
و قد تركت فيكم ما لن تضلوا بعده إن اعتصمتم به كتاب الله
Saya telah tinggalkan di tengah kalian sesuatu yang jika kalian berpegang padanya maka kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah. (HR Muslim)

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya menyebutkan satu perkara, yaitu Kitab Allah, dan memerintahkan kaum Muslimin untuk berpegang teguh padanya agar tidak tersesat. Hadits yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibn Majah, dan sama-sama hanya menyebutkan satu perkara ini tanpa dirangkai dengan Ahlu Bait Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pada hadits-hadits lainnya Nabi menyebutkan tentang dua pusaka seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Berikut ini merupakan versi lain hadits yang diriwayatkan oleh Zaid bin Arqam yang menyebutkan tentang khutbah Rasulullah di Khum.

4) Zaid bin Arqam radhiallahu ‘anhu didatangi beberapa orang yang memintanya menyampaikan apa yang ia dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Zaid kemudian menyebutkan bahwa suatu kali Rasulullah berkhutbah di suatu tempat bernama Khum, di antara Makkah dan Madinah. Antara lain isi khutbah beliau seperti berikut:
و أنا تارك فيكم ثقلين أولهما كتاب الله فيه الهدى و النور فخذو بكتاب الله و استمسكوا به فحث على كتاب الله و رغب فيه ثم قال و أهل بيتي أذكركم الله في أهل بيتي
Dan saya tinggalkan di tengah kalian dua pusaka: Yang pertama Kitab Allah, padanya ada petunjuk dan cahaya, maka ambillah Kitab Allah dan berpegang eratlah padanya. Maka Rasulullah menyuruh agar berpegang pada Kitab Allah kemudian beliau bersabda, “Dan [yang kedua adalah] Ahlu Baitku. Saya mengingatkanmu akan Allah berkenaan dengan keluargaku.” (HR Muslim)

Untuk memahami apa yang dimaksud oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkenaan dengan tsaqalain (dua pusaka) maka kita perlu menghimpun seluruh hadits-hadits yang ada dan memperhatikan keseluruhannya, bukan membacanya secara parsial. Jika diperhatikan dengan cermat, hadits-hadits tersebut mengingatkan kepada umat agar mengambil berat akan dua perkara tersebut sepeninggal Nabi, tetapi keduanya tidak diposisikan sejajar. Artinya, hadits-hadits tersebut tidak menjadikan keduanya identik dalam hal kedudukan, kesucian, maupun cara berinteraksi dengan keduanya. Semua hadits tersebut selalu menempatkan Kitab Allah di posisi yang pertama sebelum diikuti dengan penyebutan Ahlu Bait atau malah hanya menyebutkan Kitab Allah secara sendirian. Hal ini menjadi lebih jelas saat kita membaca riwayat yang lain lagi.

5) Masih dari Zaid bin Arqam radhiallahu ‘anhu, ia menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا بعدي أحدهما أعظم من الاخر كتاب الله حبل ممدود من السماء إلى الأرض و عترتي أهل بيتي و لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض فانظروا كيف تخلفوني فيهما
Saya telah meninggalkan di tengah kalian sesuatu yang jika kalian pegang erat maka kalian tidak akan tersesat selepasku. Salah satunya lebih besar daripada yang lainnya, yaitu kitab Allah yang merupakan tali yang terentang dari langit ke bumi, dan keluargaku, Ahlu Baitku, dan keduanya tidak akan berpisah hingga berjumpa denganku di Telaga. Maka perhatikanlah bagaimana kalian berinteraksi dengan keduanya sepeninggalku. (HR Tirmidzi)

Hadits ini menyatakan secara terang benderang bahwa dari dua pusaka ini, salah satunya, yaitu Kitab Allah, lebih besar daripada yang satunya lagi, yaitu Ahlu Bait Nabi. Dan juga dinyatakan bahwa keduanya tidak akan terpisah sampai berjumpa Nabi di Telaga (Hawdh). Beberapa hadits telah menyebutkan kedudukan Kitab Allah sebagai tali yang terentang dari langit ke bumi dan di dalamnya terdapat petunjuk (huda) dan cahaya (nuur), sementara hal yang sama tidak disebutkan bagi Ahlu Bait.
Penting untuk digarisbawahi bahwa perintah untuk berpegang teguh di dalam hadits-hadits ini hanya mengacu pada Kitab Allah, bukan pada kedua-dua pusaka. Kadang hal ini tampak jelas di dalam riwayat tertentu di mana perintah untuk berpegang teguh disebutkan secara langsung setelah penyebutan pusaka yang pertama, yaitu Kitab Allah, dan tidak disebut lagi saat penyebutan pusaka yang kedua.

Kadang perintah berpegang teguh ini seperti diarahkan kepada dua pusaka secara bersamaan, misalnya pada hadits nomor dua di atas dan mungkin juga pada beberapa hadits lain yang tidak dicantumkan di sini. Di sini seolah-olah posisi Kitab Allah dan Ahlu Bait Nabi menjadi sejajar, sebagai yang harus dipegang secara mutlak dan sebagai penghindar dari kesesatan. Namun jika diperhatikan baik-baik, kata ganti yang digunakan pada perintah berpegang teguh di dalam hadits tersebut adalah kata ganti orang ketiga tunggal. Atinya ini hanya mengacu pada satu pusaka saja, bukan pada dua pusaka. Di situ disebutkan in akhadztum bihi yang mengacu pada satu pusaka. Jika mengacu pada dua pusaka tentu kata ganti yang digunakan adalah bihima, tetapi bukan ini yang disebutkan oleh hadits.

Jadi pada akhirnya, perintah berpegang teguh agar tidak tersesat secara khusus diarahkan pada satu pusaka saja, yaitu Kitab Allah. Kata ganti orang ketiga tunggal ini tampak juga pada perintah berpegang teguh di dalam hadits-hadits lainnya.

Maka tanpa keraguan hanya terhadap Kitab Allah saja kita diperintahkan untuk berpegang teguh secara mutlak agar terhindar dari kesesatan. Adapun terhadap Ahlu Bait Nabi perintahnya berbeda, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, yaitu agar kita menyintai, memuliakan, dan memenuhi hak-hak mereka. Karena dari kedua pusaka ini, hanya Kitab Allah yang terjaga dari kesalahan, sementara yang satunya lagi tidak, walaupun pada keluarga Nabi juga banyak terdapat orang-orang yang soleh, mulia, dan selalu berpegang pada al-Qur’an.
Kini sudah jelas tentang pusaka yang pertama, bahwa kita diperintah untuk berpegang teguh kepadanya sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tentang pusaka yang kedua, Ahlu Bait, juga sudah disebutkan secara singkat di atas bahwa ini juga perlu diambil berat oleh kaum Muslimin sepeninggal Nabi dan kita perlu menyintai dan menghormati mereka.

Namun jika kedudukan dua pusaka ini tidak setara, mengapa pusaka yang kedua ini dirangkai oleh Nabi dengan pusaka yang pertama dan mengapa pada hadits kelima di atas disebutkan bahwa “keduanya tidak akan berpisah hingga berjumpa denganku di Telaga”?

Menurut kami, maksud dari kalimat ini adalah akan selalu ada dari kalangan keluarga Nabi yang selalu seiring sejalan dengan al-Qur’an, walaupun mereka bukan orang-orang yang ma’shum atau selalu terjaga dari kesalahan. Setidaknya ini bisa kita lihat pada generasi awal ahlul bait – seperti Ali, Fatimah, Hasan, Husain, Ali Zainal Abidin, dan yang lainnya – yang mereka merupakan orang-orang yang lurus, mulia, dan memiliki banyak keutamaan. Begitu pula dengan generasi akhirnya di penghujung zaman, yaitu al-Mahdi yang juga dari kalangan Ahlul Bait dan ia tentu saja merupakan figur yang Qur’ani. Dan di antara yang awal dan akhir ini selalu bermunculan tokoh-tokoh Ahlul Bait yang selalu berdiri bersama al-Qur’an dan mereka ini bukanlah dari kalangan syiah rafidhah. Inilah pengertian dari kalimat tersebut di atas.

Nabi mengucapkan hal ini agar jangan sampai orang yang datang kemudian menjadi pembenci keluarga Nabi dan menuduh mereka telah menyimpang dan berpisah dari al-Qur’an, khususnya ketika terjadi fitnah besar atau pada masa-masa berikutnya. Agar umat jangan lupa bahwa tokoh-tokoh utama dari keluarga Nabi ini, generasi awal serta akhirnya, tidak akan berpisah dari al-Qur’an dan dari pemahaman yang benar terhadap al-Qur’an.
Pusaka kedua ini dititikberatkan oleh Nabi agar jangan ada yang kemudian menista keluarga Nabi, membenci mereka, dan menzalimi mereka, bahkan sampai membunuh keturunan Nabi yang lurus seperti yang terjadi atas Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma. Nabi mengetahui bahwa perkara ini akan terjadi, tetapi beliau tetap memberi peringatan, bagi siapa saja yang ingin mendengar dan mengambil berat, agar kaum Muslimin sepeninggalnya tidak terlibat dalam perilaku yang dzalim serta tidak semestinya terhadap keluarga Nabi.

Akhirnya, walaupun perintah berpegang teguh agar tidak tersesat secara khusus ditujukan pada pusaka yang pertama, yaitu Kitab Allah, tetapi secara umum ia juga berkaitan dengan pusaka yang kedua. Hanya saja jika terhadap yang pertama perintahnya adalah dalam hal mengambil petunjuk dan mengikuti, maka terhadap pusaka yang kedua perintahnya berkaitan dengan sikap yang tepat dan sesuai dalam berinteraksi dengannya.

Sikap terhadap Ahlu Bait Nabi yang diperintahkan adalah yang adil dan pertengahan, yaitu tidak membenci mereka dan juga tidak menyintai secara berlebihan; tidak menghinakan atau merendahkan dan tidak pula memuja berlebihan apalagi sampai menuhankan; tidak mendzalimi dan merampas hak-hak mereka dan tidak pula memberikan apa yang bukan hak mereka serta bersikap dzalim terhadap pihak lain yang memiliki khilaf dengan mereka; tidak menuduh orang-orang soleh mereka telah keluar atau berpisah dari al-Qur’an dan tidak pula menisbatkan pemahaman-pemahaman al-Qur’an yang menyimpang kepada mereka. Karena kedua bentuk penyikapan yang ekstrim di atas juga akan membawa pada kesesatan. Yang membenci keluarga Nabi adalah golongan nashibi dan yang cinta berlebihan adalah golongan syiah rafidhah. Keduanya terjatuh dalam penyimpangan. Dan kedua bentuk ekstrimitas ini sudah muncul sejak era fitnah, tak lama sejak wafatnya Nabi.

Inilah sebabnya mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan dan mewanti-wanti umat agar mengambil berat terhadap dua pusaka ini. Karena keduanya memang sangat penting dan interaksi yang tidak tepat terhadap keduanya bisa membuat kita terpeleset pada penyimpangan. Semoga Allah menjaga kita dari hal semacam itu. /*Abu Abdillah

1 COMMENT

  1. […] Tapi anggaplah hadits ini sahih, maka ia juga tetap tidak bisa dijadikan pegangan untuk kepemimpinan atau kekhalifahan Ahlu Bait Nabi. Karena dalam hal ini kita tidak bisa memahami hadits ini secara terpisah atau sendirian, melainkan perlu melihat keseluruhan hadits yang semisal. Makna hadits ini pada akhirnya kembali kepada apa yang terkandung di dalam hadits tsaqalain. Untuk itu pembaca perlu merujuk pembahasan tentang hadits tsaqalain ini dalam tulisan kami sebelumnya Hadits Tsaqalain. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here