Kisah Pemakaman Khomeini yang Berusaha Ditutupi oleh Orang-orang Syiah

964
0
SHARE

Pada tanggal 3 Juni 1989, Khomeini meninggal dunia setelah memimpin Pemerintahan Revolusi Iran selama kurang lebih sepuluh tahun. Ia meninggal di usia 86 tahun. Prosesi pemakamannya mungkin salah satu yang terbesar dalam sejarah modern dan dihadiri oleh jutaan penduduk Iran. Kendati demikian, jenazah Khomeini sempat gagal dibawa ke tempat persemayamannya yang terakhir di Behest-e Zahra, Teheran, dan terpaksa dikafani ulang karena ramainya peziarah yang berusaha menjamah jenazah tersebut.

Salah satu foto yang beredar memperlihatkan kain kafan Khomeini yang terkoyak serta pahanya yang terbuka karena banyak orang yang berusaha menyentuh jenazahnya dan mengambil kain kafannya. Kebanyakan orang ini mungkin bermaksud mengagungkan dan mengharapkan berkah Khomeini, tetapi dampaknya justru menjadi sesuatu yang memalukan untuk dilihat.

Salah satu media Syiah di Indonesia, liputanislam.com, berusaha membantah hal ini dan menyebut penyebaran foto seperti di atas sebagai fitnah takfiri. Secara garis besar, media ini mengajukan dua argumen untuk membantah foto tersebut.

Pertama, liputanislam berargumen bahwa kalangan Syiah disunnahkan untuk dikafani saat meninggal dunia dengan kain yang sudah ditulisi doa Jausyan Kabir. Sehingga “Tidak mungkin … seorang pemegang kekuasaan tertinggi Republik Islam Iran yang bermazhab Syiah  tidak mampu membeli atau tidak mempunyai kain kafan seperti ini sampai-sampai beliau harus dimakamkan dengan kain kafan polos seperti yang tampak pada foto”.

Ada beberapa kelemahan pada argumen ini. Anggaplah liputanislam benar dalam klaimnya bahwa kain kafan pada foto tersebut adalah putih polos, sementara jenazah Syiah termasuk jenazah Khomeini semestinya dibalut kafan berisi doa. Masalahnya media ini juga tidak memberi info secara pasti bahwa jenazah Khomeini memang benar-benar telah dikafani dengan kain yang ditulisi doa Jausyan Kabir.

Walaupun media ini yakin bahwa “tidak mungkin” jenazah Khomeini dikafani dengan kain polos, kalimat ini masih bersifat dugaan. Dan karena ini hanya dugaan, maka yang sebaliknya pun (bahwa Khomeini dikafani dengan kain polos) tetap dimungkinkan terjadi. Terlebih lagi penggunaan kain kafan semacam ini hukumnya hanya bersifat sunnah di kalangan Syiah, seperti yang ditulis liputanislam sendiri, dan bukannya wajib.

Selain itu, beberapa berita menyebutkan bahwa keadaan yang kacau menyebabkan jenazah Khomeini sempat gagal dimakamkan dan kain kafannya kemudian diganti dengan yang baru. Bisa jadi dalam keadaan yang hiruk pikuk dan penuh kesulitan seperti ini, kafan pengganti bagi jenazah Khomeini adalah yang polos dan tanpa tulisan doa.

Begitu pula Baqer Moin (Khomeini: Life of the Ayatollah, Macmillan, 2015), penulis biografi Khomeini, tidak menyebutkan secara tegas apakah kain kafan Khomeini bertuliskan doa atau tidak. Ia menuturkan:

“Kemudian ia [Khomeini] dikafani dengan tiga lembar kain tebal: kain pinggang yang harus menutupi tubuh dari dada hingga ke lutut, kemeja untuk menutupi tubuh dari bahu sampai bagian atas tulang kering, dan kafan besar yang meliputi semua dan bisa dijahit di kedua ujungnya serta cukup lebar sehingga dimungkinkan satu sisi saling tumpang tindih dengan yang lain.”
(Then he was shrouded with three pieces of thick cloth: a waist cloth which must cover the body from the chest down to the knee, a shirt to cover the body from the shoulder to the upper part of the shins, and an all-encompassing large shroud which could be sewn shut at both ends and wide enough to allow one side to overlap the other).

Tapi anggaplah apa-apa yang baru saja disampaikan di atas tak bisa diterima dan kain kafan Khomeini dipastikan berisi doa Jausyan Kabir. Maka tetap saja argumen liputanislam tak memiliki pondasi yang kokoh. Karena tak ada yang dapat memastikan bahwa kain kafan pada foto di atas adalah benar-benar putih polos dan tidak mengandung tulisan doa. Kain kafan dengan tulisan doa di kalangan orang-orang Syiah tak selalu ditulis dengan tinta yang terang dan tajam. Kadang-kadang tulisannya halus dan samar dan jika dilihat dari sudut tertentu dan dari jarak yang agak jauh menjadi semakin tidak tampak perbedaannya dengan kain putih yang polos.

Pada contoh gambar di atas foto diambil dari jarak yang cukup dekat, tetapi tulisan doa hanya tampak secara samar-samar. Lalu bagaimana jika gambar diambil dari jarak yang jauh dengan keadaan kain kafan yang terpilin dan tercabik sebagiannya, seperti yang terjadi pada prosesi pemakaman Khomeini? Bagaimana mungkin bisa dipastikan bahwa kain kafan yang membalut Khomeini pada gambar pertama adalah kain yang polos dan tanpa tulisan doa?

Argumen kedua yang disampaikan liputanislam untuk membantah foto pemakaman Khomeini adalah tentang asal usul foto tersebut melalui penelusuran google image. Menurutnya yang pertama kali mengunggah gambar tersebut adalah situs http://www.signandsight.com/features/1978.html pada awal tahun 2010 dan keterangan di samping gambar tersebut sama sekali tidak berkenaan dengan Khomeini. Dengan kata lain, media ini berpendapat bahwa foto tersebut pada asalnya bukan foto jenazah Khomeini, tetapi kemudian digunakan oleh kalangan takfiri untuk menyerang Syiah. “Entah siapa yang kemudian begitu iseng menggunakan foto ini sebagai bahan fitnah atas Imam Khomeini dan menyebarluaskannya sedemikian rupa, untuk memberikan kesan yang buruk pada Syiah,” tulis liputanislam.

Cara penelusuran yang dilakukan liputanislam ini sebetulnya agak keterlaluan dan hanya mempermalukan dirinya sendiri. Karena jika kita memasukkan foto pemakaman Khomeini tersebut ke mesin pencari Google, maka sejak halaman pertama sudah terlihat beberapa link yang menampilkan foto tersebut lebih awal dari tahun 2010. Sebut saja misalnya Iconicphotos.org yang mengunggah foto tersebut pada pertengahan tahun 2009 dan secara jelas menyebutkan foto yang bersumber dari The Associated Press itu menggambarkan prosesi pemakaman Khomeini.

Iconicphotos.org memberikan keterangan di bawah foto tersebut tentang apa yang terjadi saat pemakaman Khomeini:

Ketika peti mati Ayatollah dibawa ke pemakaman Behesht-e-Zahara di Teheran, sambil meratap para pelayat merengut tubuhnya dari kotak tipis dan berebut untuk menyentuhnya. – New York Times

Orang-orang Barat menganggapnya ganjil, menakutkan – dan akhirnya tidak dapat dimengerti, tulis Time. Saat sebuah helikopter membawa peti mati kayu terbuka yang berisi jenazah fana sang Imam, nyaris satu juta pelayat mendorong ke depan dalam panas yang sangat terik dan debu yang menyesakkan demi menyentuh tubuh itu dan merenggut sepotong kain kafan linen, yang menyebabkan terbukanya jenazah secara memalukan.

Jenazah itu jatuh ke tanah, kaki telanjangnya menonjol dari balik kain kafan putih. Saat Pengawal Revolusi memukul kerumunann agar menjauh, melontarkan tembakan ke udara serta menyemprotkan pipa api, tentara lainnya mendorong tubuh dan peti mati itu kembali ke helikopter. Helikopter itu naik dengan peti mati tergantung secara riskan di luar pintu. Sekitar lima jam berlalu sebelum ada usaha lain yang berhasil mengantarkan tubuhnya ke tempat peristirahatan terakhirnya ….

(When the Ayatollah’s coffin was brought to Behesht-e-Zahara cemetery in Teheran, wailing mourners ripped the body from the flimsy box and fought to touch it. — the New York Times

Westerners found [it] as bizarre, frightening — and ultimately incomprehensible, wrote Time. As a helicopter brought the open wooden coffin containing the mortal remains of the Imam, nearly a million mourners thrust forward in the blistering heat and choking dust to touch the body and snatch a piece of the linen burial shroud, leading to an ignominious exposing of the remains.

The corpse spilled to the ground, bare feet protruding from beneath the white shroud. As the Revolutionary Guards beat back the crowds, firing shots in the air and spraying fire hoses, other soldiers shoved the body and coffin back into the chopper. It lifted off with the casket hanging precariously out the door. Some five hours passed before there was another, successful attempt to deliver the body to its final resting place….)

Penelusuran lebih jauh atas foto tersebut akan mengantarkan kita pada The Associated Press dengan penyebutkan tanggal pembuatan foto tersebut secara jelas, yaitu 6 Juni 1989, pukul 9.39 pagi. Pada keterangan foto disebutkan: “Massa pelayat yang histeris berusaha menyentuh tubuh pemimpin Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini, sementara peti matinya yang rusak diusung melewati kepala orang-orang saat upacara pemakaman di Teheran, 6 Juni 1989” (A mass of hysterical mourners reach out to touch the body of Iran’s leader Ayatollah Ruhollah Khomeini, as his broken coffin is passed overhead during funeral ceremonies in Teheran, June 6, 1989).

Bahkan jika foto tersebut tetap ditolak, peristiwanya sendiri telah dicatat oleh banyak media dan tak mungkin dituding sebagai fitnah kaum takfiri. Bukan hanya berita dari media-media Barat yang mencatat kejadian ini, media-media Iran sendiri seperti erfan.ir dan abna24.com menceritakannya dengan cukup jelas:

“Imam Khomeini meninggal karena kanker pada hari Sabtu, 3 Juni 1989, pada usia 89 tahun. Jutaan orang Iran membanjiri kota-kota dan jalan-jalan untuk meratapi kematian sang Ayatullah. Para pejabat Iran membatalkan pemakaman Khomeini yang pertama, setelah kerumunan yang besar menyerbu prosesi tersebut, nyaris menghancurkan peti mati kayu sang Imam demi melihat jenazahnya untuk yang terakhir kalinya. Pada satu saat, tubuh Imam Khomeini benar-benar hampir jatuh ke tanah, ketika kerumunan orang berusaha untuk meraih potongan kain kafannya. Pemakaman kedua diadakan di bawah keamanan yang jauh lebih ketat. Peti mati Imam Khomeini terbuat dari baja, dan petugas keamanan bersenjata ketat mengelilinginya. Sesuai dengan tradisi Islam, peti mati itu hanya membawa jenazah ke tempat pemakamannya.”

(Imam Khomeini died of cancer on Saturday, June 3, 1989, at the age of 89. Millions of Iranians poured out into the cities and streets to mourn the death of the Ayatollah. Iranian officials aborted Khomeini’s first funeral, after a large crowd stormed the procession, nearly destroying the Imam’s wooden coffin in order to get a last glimpse of his body. At one point, Imam Khomeini’s body actually almost fell to the ground, as the crowd attempted to grab pieces of the death shroud. The second funeral was held under much tighter security. Imam Khomeini’s casket was made of steel, and heavily armed security personnel surrounded it. In accordance with Islamic tradition, the casket was only to carry the body to the burial site.)

Sebuah video yang dikeluarkan oleh Middle East Observer memberikan narasi yang lebih detail:

“Helikopter itu mendarat di lokasi yang direncanakan untuk pemakaman, tetapi massa yang ada di area pemakaman membuat proses penguburannya menjadi mustahil, ketika mereka merengut peti mati dan meraih kain kafannya untuk mendapatkan berkah. Pengawal Revolusi mengintervensi untuk mendapatkan kembali tubuh [Khomeini] dan berusaha secara sia-sia untuk membubarkan massa, termasuk dengan cara melontarkan tembakan senjata ke udara. Setelah lebih dari satu jam, Pengawal Revolusi berhasil mendapatkan kembali tubuh [Khomeini] dan menerbangkannya kembali dengan helikopter untuk dikafani [lagi] …. Penguburan kembali gagal untuk yang kedua kalinya, dan panitia merasa bingung, di hadapan suatu kesedihan histeris yang kolektif, yang menghambat penguburan Imam Khomeini, sementara ribuan tangan berusaha menjangkau kafan demi mendapatkan berkah. Dan kemudian Sheikh Rafsanjani menuju ke tempat pemakaman dengan mengendarai sebuah helikopter dan secara pribadi menyaksikan pemulihan kembali tubuh [Khomeini] yang akan dikafani kembali untuk yang ketiga kalinya…. tubuh Imam Khomeini [kemudian] dimasukkan ke dalam Sebuah peti mati besi yang tertutup, untuk mencegah tangan orang banyak mencapai kafan itu.”

(The chopper landed at the site designed for burial, but the masses at the cemetery made the burying process impossible, when they grabbed the casket and reached for the shroud for blessings. The Revolutionary Guards interfered to recover the body and tried in vain to disperse the masses, despite firing gun shots in the air. After more than one hour, the Guards recovered the body and flew it back by helicopter for the shrouding…. The burial failed for the second time, and the organizers were puzzled, before a state of collective hysterical sorrow, that hindered the burying of Imam Khomeini, while thousands of hands were trying to reach the shroud for blessings. And then Sheikh Rafsanjani headed to the burial site aboard a chopper and personally saw to the restoration of the body that would be re-shrouded for the third time…. the body of Imam Khomeini was put in a sealed iron casket, to prevent the hands of the crowds from reaching the shroud.)

Berita-berita yang menjelaskan tentang masalah yang menimpa jenazah Khomeini serta kesulitannya dalam mencapai tempat pemakaman terlalu banyak dan terlalu jelas untuk dibantah. Upaya banyak pelayat untuk menyentuh jenazah dan mengambil sobekan kain kafan Khomeini demi mendapatkan berkah mungkin dimaksudkan sebagai satu bentuk pemuliaan dan pengagungan terhadap tokoh revolusi ini. Namun, hasil akhirnya justru menjadi suatu gambaran yang ganjil dan menghinakan.

 


 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here