Lalat: Satu Sayapnya Penyakit dan Satunya Lagi Obat

80
0
SHARE

Pada satu kesempatan, ada seorang yang berpaham Syiah berbincang dengan seorang ustadz yang masih terhitung familinya. Ia menyampaikan pemikirannya yang mengandung syubhat. Dipertanyakannya Abu Hurairah yang hadits-haditsnya ia anggap mencurigakan dan tidak bisa dipercaya.

“Lihat saja contohnya hadits tentang lalat yang memerintahkan agar kita untuk menenggelamkan lalat yang hinggap di atas minuman,” ujarnya. “Hal semacam ini kan menjijikkan dan tidak masuk akal.”

Ustadz yang sudah berusia agak tua itu hanya mengangguk-anggukkan kepala.

Hadits yang dimaksud oleh orang Syiah tadi adalah hadits yang telah disebutkan pada tulisan sebelumnya. Makna hadits tersebut adalah seperti berikut: Jika seekor lalat hinggap pada minuman salah seorang di antara kalian, maka hendaklah ia membenamkannya (ke dalam minuman itu), kemudian membuangnya, karena pada salah satu sayapnya ada penyakit dan pada (sayap) yang lainnya ada obat (atas penyakit itu). (HR Bukhari)

“Mana mungkin ada hadits seperti ini datang dari Nabi,” kata orang itu lagi bersemangat. “Hadits ini mungkin dibuat-buat oleh Abu Hurairah.”

Mungkin karena tidak tahu bagaimana hendak menjawab masalah ini, ustadz tadi mengajak berbincang tentang hal yang lain.

Namun ada seorang anak muda yang kebetulan hadir di tempat itu dan pernah mendengar sedikit penjelasan tentang hadits tersebut meminta ijin untuk menyampaikan pendapatnya.

“Saya pernah mendengar tentang penelitian modern yang membenarkan hadits Nabi itu. Penelitian itu menemukan bahwa pada tubuh lalat terdapat zat yang dapat menetralisir penyakit yang dibawanya, dan zat ini akan keluar saat lalat ditenggelamkan ke dalam air dan mendapat tekanan dari air tadi. Jadi hadits itu masuk akal dan tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern,” terang pemuda itu mantap.

Kini giliran orang Syiah tadi yang diam. Ia tak memberi bantahan lebih jauh. Pembicaraan setelah itu beralih ke tema yang lain, tak lagi membahas tentang hadits lalat.

#Lalat: kajian ilmiah

Bagaimanapun, jawaban yang ringkas itu mungkin masih menyisakan pertanyaan, betulkah hadits lalat di atas tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern?

Terlepas dari apa yang disampaikan oleh pemuda di atas tadi, belum lama ini ada sebuah penelitian yang secara tidak langsung telah menguatkan apa yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pada tanggal 21-23 April 2016, telah diadakan International Young Inventors Project Olympiad (IYIPO) di Tbilisi, Georgia. IYIPO tahun 2016 adalah sebuah ajang kompetisi penemu muda internasional yang diikuti oleh peserta dari 35 negara.

Pada kegiatan young inventors itu, dua orang pelajar asal Lamongan, Jawa Timur, memenangkan medali emas pada kategori biologi. Dua pelajar dari SMAN 2 lamongan ini, Alfian Nurfaizi dan Arum Ayu Ratna Wilis, berhasil membuat obat diare dari bakteri yang terdapat pada tubuh lalat rumah. Catatan prestasi ini dimuat di beberapa situs berita di tanah air (republika.co.id, detik.com, dan beberapa situs lainnya).

Membuat obat diare dari lalat?

Ya, kedua pelajar ini meneliti sistem ketahanan pada tubuh lalat dan menemukan adanya bakteri aktomisentes di dalam tubuh lalat. Dari bakteri ini dapat dihasilkan dua antibiotik yang bermanfaat sebagai obat diare, yaitu Aktimosetin dan Aktimositin.

Dengan satu proses yang tidak terlalu rumit, kedua pelajar ini menciptakan obat diare dari bakteri yang terdapat di tubuh lalat. Obat ini diuji coba di puskesmas dan dari 25 responden didapati bahwa obat tersebut bisa membantu proses penyembuhan sakit diare secara lebih cepat.

Proses untuk mendapatkan bakteri aktomisentes pada penelitian di atas mungkin tidak sesederhana membenamkan lalat ke dalam minuman. Tetapi penelitian itu membuktikan bahwa lalat membawa penyakit sekaligus obat pada dirinya. Ini sejalan dengan penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa pada salah satu ‘sayap’ lalat ada penyakit dan pada ‘sayap’ yang lainnya ada obat atas penyakit tersebut.

Mungkin saja sudah ada, atau akan ada nantinya, penelitian lain yang membuktikan secara langsung proses keluarnya zat antibiotik dari tubuh lalat dengan cara menenggelamkan lalat itu ke dalam minuman. Terlepas dari itu, penelitian para pelajar di atas sudah memadai untuk menjelaskan bahwa hadits Nabi tentang lalat tidak dapat dikatakan bertentangan dengan akal dan ilmu pengetahuan, karena penelitian saintifik sendiri telah berhasil mengobati secara efektif penyakit yang dibawa oleh lalat dengan bakteri yang berasal dari tubuh lalat itu sendiri. Tidak juga tepat jika dikatakan ajaran pada hadits Nabi di atas sebagai hal yang menjijikkan dan karenanya tidak layak diamalkan, sebab obat diare yang dihasilkan oleh penelitian dua pelajar Lamongan justru diproses dari lalat yang menjijikkan.

Akhirnya,

Lalat yang dipandang kotor dan menjijikkan itu ternyata masih bisa memberi manfaat kepada manusia dan alam sekitarnya. Jangan sampai kita sebagai manusia malah lebih banyak menimbulkan mudharat dengan menyebarkan syubhat dan kotoran pemikiran di tengah orang ramai.Abu Abdillah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here