Madinatul Ilmi

dan Para Imam Ahlul Bait

247
0
SHARE

Ada riwayat yang sering diangkat oleh kalangan Syiah untuk menekankan tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dalam hal ilmu. Riwayat-riwayat ini dapat dijumpai di dalam sumber-sumber Ahlus Sunnah. Bunyinya kurang lebih seperti berikut, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَنَا مَدِينَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا ، فَمَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيَأْتِهِ مِنْ بَابِهِ

Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya. Barang siapa yang menghendaki ilmu maka hendaklah ia mendatangi pintunya. (Hadits ini antara lain diriwayatkan oleh al-Hakim dalam Mustadrak-nya dan al-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir)

Riwayat ini diperbincangan oleh para ahli hadits. Kebanyakan mereka menganggap perawi hadits ini tidak shahih bahkan munkar. Karena itu, riwayat ini tidak kokoh sebagai sebuah rujukan.

Namun pada artikel ini kami tidak ingin mendiskusikan tentang sanad status keshahihan riwayat-riwayat tersebut. Kita anggap saja riwayat ini shahih. Jika ini memang shahih, apa kira-kira yang dimaksud oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lewat haditsnya ini?

Hadits ini semata-mata menunjukkan tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib dalam hal ilmu. Beliau memang memiliki kelebihan dalam bidang yang satu ini. Beliau termasuk salah satu anggota syura pada masa Khulafa’ al-Rasyidin, merupakan seorang perumus awal tata bahasa Arab, dan banyak lagi sisi menonjol beliau dalam hal keilmuan.

Bagaimanapun, hal ini tidak bermakna hanya beliau satu-satunya orang yang berilmu di kalangan Sahabat Nabi. Bukan juga berarti beliau saja satu-satunya pintu untuk masuk ke kota ilmu (Nabi). Hadits ini tidak menolak kemungkinan adanya pintu-pintu serta ahli ilmu yang lain di kalangan para Sahabat Nabi maupun para ulama dari generasi berikutnya.

Tidak mungkin dikatakan bahwa hanya Ali bin Abi Thalib yang merupakan pintu kepada ilmu Nabi. Karena jika demikian, maka pintu itu akan tertutup selamanya dengan wafatnya Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Jika demikian keadaannya, maka ilmu itu hanya akan berkembang dalam satu dua generasi dan setelah itu akan hilang dan lenyap, dan menjadi sia-sialah dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seluruh umat manusia. Namun kenyataannya tidak demikian, karena dari waktu ke waktu senantiasa ada pintu-pintu bagi umat manusia untuk sampai kepada kota Ilmu (Nabi). Dan pintu-pintu ini adalah para ulama. Kalau para ulama dari waktu ke waktu telah berperan sebagai pintu ilmu, maka apa yang menghalangi bagi para Sahabat yang berjumpa langsung dengan Nabi untuk memainkan peranan yang sama?

Al-Qur’an sendiri menyebutkan tentang keadaan para Sahabat Nabi yang telah diberi ilmu, di mana mereka memahami dengan baik perkataan dan ilmu yang disampaikan Nabi, sementara orang-orang munafik tidak dapat memahaminya.

وَمِنْهُم مَّن يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ حَتَّى إِذَا خَرَجُوا مِنْ عِندِكَ قَالُوا لِلَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مَاذَا قَالَ آنِفاً أُوْلَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءهُمْ

Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu orang-orang berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): “Apakah yang dikatakannya tadi?” Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. (QS 47: 16)

Ayat ini secara jelas menyebutkan tentang para Sahabat – dan ini bukan hanya Ali radhiallahu ‘anhu seorang – yang diberi ilmu (uutul ‘ilma) serta memahami dengan baik apa yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka. Dengan ilmu yang didapat dari Nabi ini mereka kemudian beramal dan mengajarkannya kepada orang lain. Dengan kata lain, dengan ilmu tersebut mereka menjadi pintu bagi orang-orang dan generasi setelahnya agar bisa sampai kepada Nabi dan kepada Rabb-nya. Dan peranan mereka kemudian diteruskan oleh para ulama selepasnya.

Walaupun riwayat-riwayat ana madinatul ilmi tidak menyebutkan latar belakang mengapa Nabi mengucapkan hal ini, tidak tertutup kemungkinan ada orang yang meragukan keilmuan Ali radhiallahu ‘anhu dalam keputusan atau pendapat yang diambilnya, lantas Nabi menutup keraguan itu dengan perkatannya ini. Nabi menegaskan bahwa sepupu dan menantunya itu merupakan seorang yang alim di kalangan sahabat dan karenanya merupakan pintu kepada kota ilmu. Sehingga tidak perlu meragukan ilmu dan pemahaman yang dimilikinya, tentunya tanpa menisbatkan sifat ma’shum kepadanya.

Akhirnya, orang-orang Syiah sendiri tidak bisa menggunakan hadits ini untuk mendukung klaim mereka dalam hal keyakinan imamah. Ambil saja contoh kalangan Itsna Asy’ariyah yang meyakini adanya dua belas imam sepeninggal Nabi. Mengapa hadits ini tidak bisa mereka gunakan sebagai hujjah? Karena hadits ini hanya menyebut Imam Ali saja sebagai pintu kota ilmu, sementara para imam lainnya telah diabaikan oleh hadits ini. Jika konsep imam yang dua belas memang betul telah ada sejak masa itu dan ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tidak semestinya para imam ini diabaikan oleh riwayat ini. Seharusnya haditsnya berbunyi “Aku adalah kota ilmu dan para imam Ahlul Bait (yang dua belas orang) adalah pintunya.” Tapi ternyata bukan begitu bunyi haditsnya.

Jika kalangan Syiah bersikukuh bahwa hadits ini hanya bagi Imam Ali, maka itu maknanya para imam Ahlul Bait lainnya bukanlah pintu bagi kota ilmu. Pintu ilmu akan menjadi tertutup dengan wafatnya Imam Ali. Para imam berikutnya mungkin mengambil ilmu dari Imam Ali, tetapi mereka sendiri tak bisa mencapai kedudukan sebagai pintu bagi kota ilmu, karena memang kedudukan itu hanya bagi imam Ali seorang saja.

Jika dikatakan bahwa hadits ini tidak bermakna bahwa hanya imam Ali seorang yang menjadi pintu bagi kota ilmu, bahwa dimungkinkan adanya pintu-pintu yang lain dari kalangan imam Ahlul Bait, maka berarti kalangan Syiah sendiri menolak adanya pembatasan hanya kepada imam Ali saja.

Kalangan Syiah mungkin menakwilkan bahwa pintu-pintu berikutnya mestilah para imam dari jalur Ali bin Abi Thalib. Namun, pintu itu pada akhirnya akan tertutup juga dengan berakhirnya para imam.

Mungkin dikatakan bahwa imam tetap ada sampai sekarang dan karenanya pintu belum tertutup, hanya saja imamnya ghaib. Maka apa artinya sebuah pintu yang ghaib? Bagaimana orang-orang bisa sampai ke kota ilmu jika pintunya ghaib? Anggaplah ada sebuah rumah besar dengan satu pintu, tetapi pintunya ghaib, tersembunyi. Lantas bagaimana caranya orang-orang bisa masuk ke dalam rumah tersebut dan mengetahui apa isinya, sementara pintunya saja tidak mereka ketahui keberadaannya?

Mungkin dikatakan bahwa para ulama (Syiah)-lah yang menjadi pintu-pintu menuju kota ilmu, karena merekalah yang memahami riwayat-riwayat dari para imam dan menjadi orang-orang yang mewakili imam terakhir selama ia ghaib. Maka penafsiran ini akhirnya kembali kepada peran para ulama sebagai pintu ilmu.

Lantas, jika para ulama Syiah yang hidup jauh belakangan itu boleh menjadi pintu bagi kota ilmu padahal mereka sangat jauh dari perjumpaan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bagaimana mungkin para Sahabat ditolak kedudukannya sebagai pintu bagi kota ilmu sementara mereka bertemu Nabi, berjuang bersama Nabi, mengorbankan harta dan jiwa mereka membela ajaran Nabi, dan mendengar kata-kata serta menyaksikan perbuatan Nabi secara langsung?

Bagaimana mungkin para Sahabat – selain imam Ali – tidak dianggap sebagai pintu ilmu, padahal mereka telah mendengar dan berguru secara langsung pada Nabi? Silahkan pikirkan ini baik-baik bagi siapa saja yang mau berpikir.Abu Abdillah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here