Home Article Peperangan di antara Orang-Orang Beriman

Peperangan di antara Orang-Orang Beriman

210
0
SHARE

Peperangan di Antara Orang-orang Beriman

Orang-orang beriman memang semestinya berukhuwah dan tidak saling menyakiti. Tetapi bukan berarti tidak mungkin terjadi konflik dan peperangan di antara dua kumpulan yang sama-sama beriman. Hal yang sama berlaku pula untuk para Sahabat Nabi. Ini bukannya dibuat-buat untuk membenar-benarkan para Sahabat yang terlibat konflik dan peperangan, melainkan karena al-Qur’an sendiri yang menyatakannya secara jelas sebagaimana yang akan kami tuturkan nanti.

Di antara perkataan yang sering diucapkan oleh kalangan Syiah adalah, “Kalau para sahabat itu semuanya baik dan soleh, mengapa mereka saling bunuh sepeninggal Nabi?”

Memang betul telah terjadi peperangan di antara para Sahabat yang menimbulkan korban di kedua belah pihak. Idealnya ini tidak terjadi. Tetapi takdir telah menentukan ini terjadi. Lantas apakah konflik dan peperangan tersebut membuat kita harus memilih secara mutlak, tanpa ada kemungkinan lain, bahwa salah satu pihak yang berperang merupakan kumpulan yang baik dan soleh dan kumpulan yang lainnya adalah pihak yang jahat; bahwa yang satu mesti Ahli Surga dan yang lainnya pasti penduduk Neraka? Apakah di antara sesama orang baik dan beriman sama sekali tidak mungkin berlaku peperangan?

Sebenarnya mungkin saja hal ini terjadi, karena konflik dan peperangan bisa juga ditimbulkan oleh kesalahpahaman dan keadaan yang kacau dan tak menentu (fitnah).

Dalam sebuah hadits, misalnya, disebutkan:

عن أبي هريرة – رضى الله عنه –قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم “لا تقوم الساعة حتى تقتتل فئتان دعواهما واحدة”

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Hari Kiamat tidak akan terjadi hingga dua kelompok (besar) saling berperang, sementara seruan mereka satu.” (HR. Bukhari)

Ada beberapa hadits shahih lainnya yang bunyinya senada dengan ini. Walaupun tidak disebutkan secara tegas di dalam hadits tentang siapa yang berperang, tetapi hadits ini mengisyaratkan pada konflik yang terjadi di antara dua kelompok besar Muslim, di mana seruan mereka adalah satu. Maksudnya mereka sama-sama Muslim dan sama-sama golongan yang beriman.

Barangkali pembaca akan membantah hadits di atas karena di situ tidak secara tegas disebutkan bahwa dua kelompok yang berperang adalah dari kalangan Muslim atau orang-orang yang beriman. Sekarang biarlah kita rujuk apa yang terdapat di dalam teks al-Qur’an. Tentang ini Allah berfirman:

وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِن فَاءتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (QS 49: 9)

Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa mungkin saja terjadi peperangan di antara orang-orang yang beriman. Salah satu pihak yang berperangmungkin bersalah dan karenanya harus diperangi hingga maukembali pada perintah Allah,tetapi al-Qur’an tidak menyatakan keimanan mereka pasti gugur karena apa yang berlaku atas mereka itu.

Jika mereka beriman, sudah tentu mereka akan masuk Surga, walaupun terjadi peperangan di antara sesama mereka. Jika mereka beriman,sudah tentu mereka adalah orang-orang yang baik dalam pandangan Islam,walaupun pada diri mereka mungkin ada kekurangan dan kesalahan.Kalau orang-orang yang beriman tidak dianggap sebagai bagian dari orang-orang yang baik, maka siapa lagi yang akan dianggap baik?

Yang paling penting dari penjelasan ayat tersebut adalah jika terjadipeperangan semacam ini maka tujuan akhir yang harus diupayakan adalah perdamaian(islah) di antara kedua belah pihak. Memperuncing perselisihan dalam hal inisama sekali bukan opsi Qur’ani.

Sekarang, kalau al-Qur’an menyatakan bahwa mungkin saja terjadi peperangan diantara orang-orang yang beriman, maka bagaimana kita hendakmembantahnya? Jika halitu mungkin terjadi di antara orang-orang beriman secara umum, bagaimanamungkin kita menolak hal ini bisa juga terjadi di antara para Sahabat Nabi?Tidak semestinya kita menganggap mustahil dua pihak yang berperang dikalangan Sahabat sebagai pihak yang sama-samabaik, sementara al-Qur’ansendiri membuka kemungkinan terjadinya perang di antara sesama orangberiman.

Perang di antara para Sahabat sudah berlalu berabad-abad yang lalu.Perang itu terjadi karena fitnah yang muncul di tengah umat ketika itu.Kemudian telah terjadi islah di antara para Sahabat hingga terhentinyakonflik dan peperangan.

Islah ini antara lain terjadi lewatperdamaian yang dimotori oleh Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhu, sebagaimana diramalkan di dalam haditsyang diriwayatkan oleh Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammengangkat Hasan bin Ali – yang ketika itu masih kecil – bersamanya ke atas mimbar dan bersabda:

ابني هذا سيد و لعل الله أن يصلح به بين فئتين من المسلمين

Puteraku ini adalah seorang Sayyid dan semoga melalui dirinyaAllah meng-islah (mendamaikan) di antara dua kelompok Muslimin [yang berperang]. (HR Bukhari)

Kalaupun, mungkin saja, ada di antara individu-individu Sahabat yang terlibatdalam perang ketika itu dan hingga berlakunya kematian atas dirimereka belum sempat terjadi islah (perdamaian) di antara dirinya dan pihak yang berseberangan dengannya, maka insya Allah mereka termasuk yang akan di-islah diakhirat oleh Allah sebagaimana yang telah disebutkan oleh al-Qur’an(15: 47) dan telah dijelaskan pada artikel sebelum ini (http://www.syiah.co/ahli-surga-bisa-saja-bermusuhan-saat-di-dunia/).

Akhirnya, tugas orang-orang beriman adalah menutup perselisihan yang sudah berlalu, khususnya yang pernah terjadi di  antara para Sahabat Nabi,agar islah menjadi wujud dan terpelihara, bukannya malah mengorek-ngorekluka lama dan membuka kembali konflik yang pernah terjadi. Sikap terbaik dalam masalah ini adalah seperti yang diucapkan oleh Umar bin Abdul Aziz saat ditanya tentang Perang Jamal dan Shiffin, “Urusan yang Allah telah menghindarkan tanganku darinya, maka aku tidak akan mencampurinya dengan lisanku.”

Ada pun bagi kalangan Syiah, belum sampaikah waktunya untuk berhenti dari mengotori lisan dengan persoalan ini? Apa yang hendak dicari dari mengulang-ulang persoalan ini secara terus menerus? Apakah islah yang diinginkanatau malah hendakmemunculkan kembali dendam dan permusuhan?/*Abu Abdillah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here