Home Article Siapakah Ilyasin?

Siapakah Ilyasin?

Dalam sudut pandang surat al-Shaffat (الصّافات)

194
0
SHARE

Surat al-Shaffat (الصّافات) – surat ke 37 di dalam al-Qur’an menceritakan kisah beberapa Nabi, di antaranya Nabi Ilyas ‘alaihis salam. Al-Qur’an menyebut beliau sebagai benar-benar seorang rasul:

‎وَإِنَّ إِلْيَاسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ

Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul.QS. al-Shaffat : 123

Pada ayat ke-130, disebutkan ucapan salam atas Nabi Ilyas ‘alaihis salam, hanya saja teks Bahasa Arab yang digunakan dalam menyebutkan nama beliau berbeda dari biasanya. Yaitu:

‎سَلَامٌ عَلَىٰ إِلْ يَاسِينَ

Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas.QS. al-Saffat : 130

Kalangan Syiah membaca ayat ke-130 ini sebagai Aali Yaasiin yang bermakna ‘keluarga Yaasiin’. Dan yang mereka maksudkan dengan Yaasiin tak lain adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan kata lain, ayat tersebut menurut kalangan Syiah merupakan ucapan salam bagi keluarga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam hal ini mengacu pada para imam Ahlul Bait.

Mereka berargumen pada perbedaan tulisan teks pada ayat tersebut. Jika yang dimaksud memang Nabi Ilyas, maka semestinya ditulis sebagaimana penulisan nama beliau yang biasa digunakan, yaitu Ilyaas (إلياس), dan bukannya Il Yaasiin (إل ياسين).

Sebagian orang Syiah kemudian menuding bahwa Ahlus Sunnah telah menyimpangkan bacaan dan makna kata tersebut disebabkan kebencian mereka pada keluarga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka berikut tanggapan kami atas hal tersebut:

 Pertama , adalah aneh jika dikatakan bahwa kalangan Ahlus Sunnah menyimpangkan bacaan dan makna kata tersebut karena benci pada keluarga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sementara setiap hari pada tahyat di dalam solat mereka selalu mengucap shalawat atas Nabi  shallallahu ‘alaihi wasallam dan keluarganya. Ini juga diucapkan pada bacaan shalawat secara umum, yang amaliah ini jauh lebih kerap dilakukan dibandingkan bacaan orang-orang atas Surat al-Shaffat ayat 130 di atas. Jika memang benci pada keluarga Nabi, akan lebih efektif jika sebutan shalawat atas keluarga Nabi (wa ‘ala aali Muhammad) dihilangkan sekalian. Tetapi hal ini tidak terjadi.

 Kedua , adalah hal yang lumrah jika orang atau tempat tertentu memiliki lebih dari satu nama atau lebih dari satu cara penyebutan. Ini kita jumpai misalnya pada penyebutan nama Ahmad untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serta penyebutan Bakkah untuk Makkah. Sebagaimana adanya lebih dari satu penyebutan dimungkinkan pada contoh-contoh di atas, maka hal yang sama mungkin pula berlaku pada Nabi Ilyas ‘alaihis salam.

 Ketiga , sejauh yang kami ketahui para ahli qiraat membaca ayat tersebut dengan dua bacaan. Yang pertama adalah Ilyaasiin, dan ini adalah penyebutan yang berbeda bagi orang yang sama, yaitu Nabi Ilyas ‘alaihis salam. Yang kedua adalah Aal Yaasiin yang bermakna ‘keluarga Yasin’. Yang kedua ini pun masih mengacu pada Nabi Ilyas, bukan pada orang lain, karena sebagian tafsir menyebutkan bahwa nama lengkap beliau adalah Ilyas bin Yasin bin Finhas bin al-Izar bin Harun. Nama ayah Nabi Ilyas adalah Yasin. Jadi jika ayat itu dibaca ‘keluarga Yasin’, maknanya tetap kembali kepada Nabi Ilyas ‘alaihis salam.

 Keempat , ayat-ayat sebelumnya berbicara tentang beberapa Nabi yang setiap Nabi tersebut diberi ucapan “salaamun ‘ala ….”

Saat diceritakan tentang Nabi Nuh ‘alaihis salam (37: 75-82), al-Qur’an menyebut “salam atas Nuh di seluruh alam” (37: 79). Kemudian pada ayat 81 disebutkan “Sungguh dia (innahu) termasuk di antara hamba- hamba Kami yang beriman”.

Saat diceritakan tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salam (37: 83-113), al-Qur’an menyebut “salam atas Ibrahim” (37: 109). Kemudian pada ayat 111 dikatakan “Sungguh dia (innahu) termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”

Saat diceritakan tentang Nabi Musa dan Harun ‘alaihimas salam (37: 114-122 ), al-Qur’an menyebut “salam atas Musa dan Harun” (37: 120). Kemudian pada ayat 122 disebut “Sungguh keduanya (innahuma) termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”

Hal serta pola penuturan yang sama berlaku pula saat diceritakan tentang Nabi Ilyas ‘alaihis salam (37: 123-132 ). Al-Qur’an juga menyebut “salam atas Ilyas (Ilyaasiin)” (37: 130). Dan pada ayat 132 disebutkan: “Sungguh ia (innahu) termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”

Jadi ayat 130 pada Surat al-Shaffat lebih sesuai bagi Nabi Ilyas ‘alaihis salam, lebih sejalan dengan pendekatan al-Qur’an dalam rangkaian penjelasannya, dan lebih bisa diterima akal.

 Kelima , adalah aneh jika yang dimaksud oleh Surat al-Shaffat ayat 130 adalah “keluarga Muhammad”. Dalam konteks apa makna ini muncul sementara ayat-ayat sebelumnya sedang bercerita tentang Nabi Ilyas ‘alaihis salam? Ini juga bertentangan dengan pola penjelasan al-Qur’an pada ayat-ayat sebelumnya. Allah menyebut salam pada Nuh ‘alaihis salam saat menceritakan kisahnya; menyebut salam pada Ibrahim ‘alaihis salam saat menceritakan kisahnya; menyebut salam pada Musa dan Harun ‘alaihimas salam saat menceritakan kisah mereka berdua. Lalu ketika al-Qur’an sedang bercerita tentang Ilyas ‘alaihis salam, tiba-tiba yang diberi salam adalah “keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam“?

 Keenam , jika yang dimaksudkan oleh ayat tersebut adalah “keluarga Muhammad”, maka siapa tepatnya yang dimaksudkan? Kalau maksudnya adalah para imam Ahlul Bait yang jumlahnya dua belas orang, seperti diyakini oleh Syiah Imamiyah, maka  ayat ke-132 seharusnya menggunakan kata ganti jamak (innahum). Tapi kenyataannya tidak begitu. Kalau yang dimaksud adalah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, maka mengapa hanya beliau yang dituju oleh ayat tersebut? Bukankah keluarga Nabi bukan hanya beliau dan bukankah para imam yang diklaim oleh kalangan Syiah bukan hanya beliau seorang? Mengapa hanya Ali bin Abi Thalib yang menerima salam dari Allah, sementara para imam Ahlul Bait yang lain tidak menerima ucapan yang sama di dalam al-Qur’an?

Jika dikatakan bahwa ucapan salam kepada Ali bin Abi Thalib seorang sudah mewakili kepada yang lain, maka lagi-lagi hal ini tidak sejalan dengan pendekatan al-Qur’an pada rangkaian ayat yang ada. Karena saat menjelaskan tentang Nabi Musa dan Harun, salam disampaikan kepada mereka berdua, bukan hanya kepada satu orang untuk mewakili keduanya.

 Ketujuh , adalah lebih masuk akal dan sesuai dengan penjelasan al-Qur’an jika ucapan salam atas “keluarga Muhammad” disebutkan saat al-Qur’an bercerita tentang kisah “keluarga Muhammad”. Tetapi tidak demikian realita ayatnya. Bahkan kalau mau sedikit dipaksakan, ucapan itu akan lebih sesuai jika muncul saat al-Qur’an bercerita tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini yang diceritakan bukan “keluarga Muhammad”, bukan pula tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba ucapan salam atasnya muncul secara menyempal di tengah kisah Nabi Ilyas ‘alaihis salam, dan tanpa ada suatu konteks yang mengisyaratkan pada makna tersebut. Penafsiran semacam ini jelas ganjil.

 Maka  pemaknaan Ilyaasiin, atau Aali Yaasiin, kepada ‘keluarga Nabi Muhammad’ merupakan pandangan yang terlalu lemah untuk dijadikan pegangan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here