Tangisan Karbala dan Tangisan Ya’qub

Refleksi 10 Muharram

195
0
SHARE

Tidak ada mukmin yang tidak bersedih dengan syahidnya Husain bin Ali radhiallahu ‘anhu di padang Karbala. Beliau dan beberapa orang anggota keluarganya dibunuh secara zalim oleh tentara Bani Umayyah, padahal beliau adalah cucu Nabi yang tercinta dan salah seorang pemimpin para pemuda di surga.  Kita mengutuk mereka yang terlibat dalam pembunuhan itu, termasuk mereka yang telah mengkhianatinya dari kalangan Syiah Kufah.

Peristiwa itu sendiri terjadi pada tanggal 10 Muharram yang kemudian diperingati setiap tahunnya oleh orang-orang Syiah. Mereka mengenang tragedi Karbala sambil menangis, memukul-mukul dada, bahkan ada pula yang melukai diri sendiri.

Hal ini menjadi salah satu titik perbedaan antara Syiah dan Ahlus Sunnah. Kalangan Ahlus Sunnah, kendati sangat sedih dengan gugurnya sayyidina Husain radhiallahu ‘anhu, tidak menangisinya secara khusus setiap tahun seperti yang dilakukan kalangan Syiah, sebagaimana mereka juga tidak melakukan hal yang sama terhadap orang-orang soleh lainnya yang gugur terzalimi oleh lawan-lawannya.

Bukan tangis atau kesedihannya – yang bersifat spontan – yang ditolak oleh kalangan Ahlus Sunnah, melainkan ratapan tahunan yang diadakan secara khusus untuk mengenang sayyidina Husain bin Ali radhiallahu ‘anhu. Karena ini termasuk ratapan dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang umatnya dari meratapi kematian.

Dalam satu hadits, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, disebutkan:

اثنتان في الناس هما بهم كفر: الطعن في النسب و النياحة على الميت

Dua hal yang merupakan tanda kekufuran bagi siapa saja yang melakukannya: Mencela nasab dan meratapi mayit. (HR Muslim)

Niyahah adalah mengulang-ulang meratap dengan bersuara sambil menyebut-nyebut kebaikan mayit.

Jika ada orang soleh yang meninggal dunia, terlebih lagi jika ia termasuk ahli keluarga kita, maka menangis atas kematiannya merupakan tanda kelembutan hati. Tetapi jika menangis dengan meratap berulang-ulang, maka ini termasuk hal yang dilarang. Kita bersedih atas kematian orang yang dekat dengan kita, tetapi harus ridha atas kematiannya dan menghindari perbuatan yang dilarang oleh agama.

Namun kalangan Syiah menolak pandangan ini. Mereka berpandangan tidak ada masalah menampakkan kesedihan untuk waktu yang lama serta berulang-ulang menangis untuk masa yang panjang atas musibah dan kematian yang menimpa sayidina Husain. Mereka berhujjah dengan kisah Nabi Ya’qub ‘alahis salam yang bersedih dan menangis karena kehilangan puteranya Yusuf sehingga matanya menjadi buta.

وَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَى عَلَى يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ

Dan Ya’qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). ( QS 12: 84)

Satu riwayat di dalam Tafsir Tabari menyebutkan bahwa

Kesedihannya menggema di dalam dada, tetapi ia tidak mengucapkan sesuatu yang buruk.

Nabi Ya’qub ‘alaihis salam menyimpan kesedihan untuk dirinya sendiri dan hanya mengadu kepada Tuhannya. Selain sedih, Ya’qub juga menahan kemarahannya kepada anak-anaknya yang telah menzalimi Yusuf.

Kalangan Syiah berargumen dengan ayat ini, jika Nabi Ya’qub ‘alaihis salam boleh bersedih dan menangis karena memendam cinta dan nestapa kepada Yusuf ‘alaihis salam hingga matanya terkena masalah serius, maka apa salahnya orang-orang menangis dan meratapi sayidina Husain setiap kali mengenang peristiwa Karbala?

Sampai di sini, pendapat Syiah kelihatan sangat kokoh dan tak tergoyahkan. Tetapi sebetulnya mereka merujuk pada dalil yang keliru. Ada perbedaan yang sangat mendasar antara tangisan Nabi Ya’qub ‘alaihi salam dengan tangisan Karbala yang dilakukan oleh kalangan Syiah. Berikut ini perbedaannya:

Nabi Ya’qub ‘alaihis salam menangisi anaknya yang belum meninggal dunia. Sementara kalangan Syiah menangisi sayidina Husain yang sudah tiada. Kedua-duanya sama-sama mengalami musibah dan kezaliman, tetapi Nabi Yusuf ‘alaihis salam belum meninggal dunia dan kisahnya belum selesai, sementara sayidina Husain radhiallahu ‘anhu sudah wafat di padang Karbala dan kisah hidupnya sudah selesai. Yang masih hidup masih bisa diharapkan perubahan keadaannya. Yang sudah meninggal dunia tidak.

Karena itu, tangisan Ya’qub ‘alaihis salam adalah tangisan harapan akan terjadinya perubahan di masa depan, bukan tangisan dendam atau kemarahan atas apa yang sudah berlalu dan tidak bisa diubah lagi. Ada harapan agar musibah yang menimpa Yusuf ‘alaihis salam nantinya berubah menjadi nikmat. Nabi Ya’qub sendiri mengetahui bahwa Yusuf belum meninggal sebagaimana yang diisyaratkannya sejak awal dan juga menjelang pertemuannya kembali dengan puteranya itu.

فَلَمَّا أَن جَاء الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَى وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيراً قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنَ اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Ya’qub: “Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya”. (QS 12: 96)

Dari mana Nabi Ya’qub tahu bahwa puteranya itu belum meninggal dunia? Ia mengetahui akan hal itu melalui mimpi Yusuf yang telah disampaikan di awal Surat tersebut yang ia ketahui kebenarannya. Mimpi itu belum terwujud dan sudah tentu akan terwujud nantinya. Karena itu, Ya’qub mengadu pada Allah akan keadaan putera yang dicintainya itu serta perbuatan buruk putera-puteranya yang lain. Yang terakhir ini pun menjadi sesuatu yang diharapkan perubahannya oleh sang ayah, yaitu agar mereka kelak menjadi sadar dan bertaubat.

Jika Nabi Yusuf sudah meninggal dunia dan Nabi Ya’qub mengetahuinya, akankah ia menangisinya dalam masa yang panjang? Bisa dipastikan ia tidak akan melakukannya, karena ini merupakan bentuk kesedihan yang terlarang. Memang ia akan sedih dan menangis saat tahu tentang kematian puteranya, tapi ia tak akan menangisinya terus menerus untuk waktu yang lama. Ini merupakan dua hal yang berbeda. Menangisi kematian sanak keluarga secara wajar merupakan ekspresi kelembutan hati, tetapi menangisinya terus menerus untuk masa yang panjang merupakan satu bentuk ratapan serta ekspresi ketidakridhaan.

Hal ini sejalan dengan perilaku para Nabi dan orang-orang soleh lainnya. Tidak ada satu pun contoh dari al-Qur’an, atau Hadits, yang menerangkan adanya kematian yang ditangisi terus menerus oleh para Nabi atau orang-orang soleh. Mengapa demikian? Karena orang-orang yang sudah meninggal dunia hanya berada di antara dua kemungkinan. Pertama, ia orang jahat dan masuk ke dalam Neraka, maka yang seperti ini tidak layak ditangisi. Kedua, ia orang baik dan masuk ke dalam Surga, maka hal ini  mendatangkan keridhaan dan kebahagiaan, bukannya kesedihan yang berlarut-larut.

Ambil saja contoh Nabi Adam ‘alaihis salam, satu puteranya membunuh puteranya yang lain. Ini musibah yang lebih besar dibandingkan apa yang menimpa Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Tetapi kita tidak menemukan di dalam al-Qur’an bahwa Nabi Adam meratapi kematian puteranya yang terbunuh secara terus menerus, atau menangisi kematiannya setiap tahun.

Begitu pula diceritakan betapa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merasa sangat sedih dengan gugurnya sayidina Hamzah radhiallahu ‘anhu di Perang Uhud. Dalam satu riwayat, seperti disebutkan dalam al-Rahiq al-Makhtum karya Mubarakfury, dikatakan bahwa Ibn Mas’ud radhiallahu ‘anhu berucap, “Kami tidak pernah sekalipun melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menangis dengan tangisan yang melebihi tangisan beliau terhadap Hamzah bin Abdul Muthalib. Beliau meletakkannya di arah kiblat, berdiri di sisi jenazahnya, lalu menangis hingga terisak-isak.”

Sedemikian besar kesedihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas gugurnya sayidina Hamzah, tetapi beliau hanya menangisinya pada ketika itu saja. Beliau tidak membuat peringatan tahunan sambil mengulang-ulang tangisan kesedihan untuk sayidina Hamzah dan para syuhada Uhud.

Kembali pada pembahasan, musibah yang menimpa Nabi Ya’qub dan puteranya ‘alaihimas salam berbeda dengan apa yang terjadi pada sayidina Husain, bukan dalam signifikasinya, tetapi dalam konteksnya, sehingga tidak tepat menjadikan tangisan Ya’qub ‘alaihis salam sebagai hujjah dalam hal ini.

Sayidina Husain sudah gugur sebagai syuhada. Sedih atas terjadinya peristiwa itu adalah satu keniscayaan bagi orang-orang beriman. Namun meratapinya setiap tahun merupakan hal yang lain lagi. Ini sesuatu yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serta para Nabi lainnya, bahkan sebenarnya ini merupakan sesuatu yang dilarang. Semoga kita semua dijauhkan darinya.

Akhirnya, kita perlu menyontoh dan merenungkan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat puteranya yang masih kecil, Ibrahim, meninggal dunia. Ketika itu beliau menangis sedih sambil berucap:

إن العين تدمع والقلب يحزن ولا نقول إلا ما يرضى ربنا

Sesungguhnya mata ini menangis dan hati ini bersedih, tetapi kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang Rabb kami tidak ridha.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here